Di serambi malam aku berdiri, angin musim gugur turun dari utara, membawa bau daun padi dan namamu yang tak selesai disebut. Bulan menggantung di langit seperti lentera istana yang padam setengah, cahayanya jatuh di sungai sunyi— riak air menulis bayangmu, lalu menghapusnya perlahan. Burung angsa terbang melintas awan tipis, sayapnya menyentuh dingin yang sama dengan jarak antara kita. Aku ingin menjadi kabut yang menyusup ke jendela kamarmu, meninggalkan embun di rambutmu yang terurai. Di meja kaca, teh melati mendingin. Uapnya tadi naik seperti doa, kini hanya sisa hangat yang mengendap di dasar cangkir keramik retak. Musim semi pernah berjanji pada bunga persik untuk mekar bersama tawa kita. Namun musim berganti tanpa pamit— daun gugur lebih setia daripada janji manusia. Jika angin malam sampai padamu, biarkan ia menyentuh pipimu dan kau akan tahu: di kota ini seseorang masih menghitung detak waktu dengan sebutir rindu di setiap desah napasnya. 2 Maret 2026
"Anthology of Syams' Works" bring together essays, short stories, opinion pieces, and articles that reflect critical engagement with social, cultural, and human realities. Through a calm yet incisive voice, these works explore meaning beyond facts, inviting readers into a space of reflection, empathy, and interpretation rather than definitive answers.