Orang-orang tua dulu sebenarnya sudah lama mengenali watak manusia yang ucapannya berubah-ubah. Karena itu lahirlah ungkapan: “pagi dele, sore tempe.” Sebuah sindiran sederhana untuk orang yang hari ini berkata lain, besok berubah lagi. Dalam bahasa Jawa, perilaku seperti itu disebut mencla-mencle. Hari ini mendukung, besok menyangkal. Di depan memuji, di belakang ikut mencibir. Ketika bersama kelompok tertentu ia tampak paling yakin, tetapi begitu suasana berubah, pendapatnya ikut berbalik arah. Seolah-olah pikirannya tidak pernah benar-benar memiliki pijakan. Anehnya, perilaku seperti ini sekarang semakin sering terlihat. Bukan hanya dalam pergaulan biasa, tetapi juga dalam dunia kerja, organisasi, bahkan kehidupan bermasyarakat. Banyak orang lebih sibuk mencari posisi aman daripada menjaga konsistensi sikap. Yang penting diterima semua pihak, meskipun harus mengorbankan kejujuran ucapannya sendiri. Padahal orang mencla-mencle bukanlah orang yang berpikir matang. Justru sering kali s...
Oleh Syamsul Maarif, M.Pd Pendekatan hermeneutik dalam memahami teror kepala babi dan enam tikus memungkinkan kita menggali makna tersembunyi di balik simbol-simbol yang digunakan dalam konteks intimidasi terhadap kebebasan pers. Hermeneutika, sebagai metode interpretatif, menekankan pada pemahaman makna yang tidak hanya bersifat literal, tetapi juga historis, sosial, budaya, dan politis. Dalam kasus ini, pengiriman kepala babi dan tikus ke kantor Tempo bukan hanya sekadar aksi vandalisme, tetapi juga mengandung pesan simbolik yang membutuhkan analisis mendalam terkait konteks budaya, sejarah, dan politik Indonesia. Hermeneutika Simbolisme Kepala Babi dan Tikus Dalam tradisi hermeneutik, makna suatu simbol tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan konteks di mana simbol tersebut digunakan. Berikut adalah interpretasi makna dari simbol kepala babi dan enam tikus berdasarkan pendekatan hermeneutik: 1. Kepala Babi dalam Konteks Budaya, Sejarah, dan Politik • Dalam Budaya Indones...