Sebuah Cerita Pendek tentang Cinta Di sebuah desa kecil di kaki gunung, pagi datang bersama kabut yang turun rendah. Anak-anak berjalan menyusuri pematang menuju sekolah, melewati rumah-rumah sederhana dan gang sempit yang masih basah oleh embun. Di sekolah itu mengajar seorang guru muda bernama Kanan. Ia baru lulus SLTA, tetapi kecerdasannya dalam Fisika membuat orang-orang percaya kepadanya. Ia pandai menjelaskan rumus-rumus yang bagi murid lain terasa rumit. Di antara murid-muridnya ada Kinan, seorang gadis yang usianya sekitar lima tahun lebih muda darinya. Mula-mula Kinan hanya kagum. Ia senang melihat tangan Kanan menulis rumus di papan tulis dan mendengar penjelasannya tentang benda yang jatuh, cahaya yang bergerak, dan hukum-hukum alam. Namun hati manusia punya hukumnya sendiri. Kekaguman itu perlahan menjadi rindu. Kinan dan Kanan mulai sering bertemu di gang-gang desa, di antara rumah warga yang mulai sepi menjelang sore. Tidak ada telepon genggam pada masa itu. Jika rindu, m...
Oleh: Syamsul Maarif Ekonomi Indonesia sedang memperlihatkan gejala yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Di satu sisi, berbagai indikator makroekonomi menunjukkan stabilitas. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi relatif terkendali, investasi terus didorong, dan pemerintah optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Namun di sisi lain, percakapan sehari-hari masyarakat justru dipenuhi keluhan tentang sulitnya mencari pekerjaan, menurunnya daya beli, meningkatnya biaya hidup, dan semakin beratnya memenuhi kebutuhan keluarga. Pertanyaannya sederhana: mengapa masyarakat merasa ekonomi sedang sulit ketika berbagai indikator resmi mengatakan sebaliknya? Jawabannya mungkin terletak pada sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai anomali ekonomi: ketika kesehatan ekonomi nasional tidak lagi sepenuhnya tercermin dalam kesehatan ekonomi rumah tangga. Selama beberapa dekade, Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi ukuran utama keberhasilan pembangunan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, s...