Di negeri yang bercita-cita menjadi kekuatan ekonomi besar dunia, ada satu persoalan klasik yang tak kunjung selesai: listrik yang padam berulang. Ironisnya, persoalan mendasar ini terjadi di bawah pengelolaan perusahaan negara raksasa, Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang memegang mandat strategis atas hajat hidup orang banyak. Pemadaman listrik bukan lagi sekadar gangguan teknis insidental. Ketika mati lampu terjadi berulang dalam rentang waktu singkat, dengan pola yang hampir seragam, publik berhak menyebutnya sebagai kegagalan keandalan sistem. Dan dalam konteks infrastruktur vital, kegagalan berulang adalah persoalan tata kelola, bukan sekadar cuaca. Indonesia sedang mendorong transformasi digital, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM. Pemerintah berbicara tentang pusat data, ekosistem startup, elektrifikasi kendaraan, hingga smart city. Semua itu bertumpu pada satu fondasi: pasokan listrik yang stabil. Tanpa listrik yang andal, seluruh narasi kemajuan berubah menjadi retorika...
Di serambi malam aku berdiri, angin musim gugur turun dari utara, membawa bau daun padi dan namamu yang tak selesai disebut. Bulan menggantung di langit seperti lentera istana yang padam setengah, cahayanya jatuh di sungai sunyi— riak air menulis bayangmu, lalu menghapusnya perlahan. Burung angsa terbang melintas awan tipis, sayapnya menyentuh dingin yang sama dengan jarak antara kita. Aku ingin menjadi kabut yang menyusup ke jendela kamarmu, meninggalkan embun di rambutmu yang terurai. Di meja kaca, teh melati mendingin. Uapnya tadi naik seperti doa, kini hanya sisa hangat yang mengendap di dasar cangkir keramik retak. Musim semi pernah berjanji pada bunga persik untuk mekar bersama tawa kita. Namun musim berganti tanpa pamit— daun gugur lebih setia daripada janji manusia. Jika angin malam sampai padamu, biarkan ia menyentuh pipimu dan kau akan tahu: di kota ini seseorang masih menghitung detak waktu dengan sebutir rindu di setiap desah napasnya. 2 Maret 2026