Skip to main content

Posts

Bangkai Kepala Babi dan Tikus: Pendekatan Hermeneutik dalam Analisis Simbolisme.

Oleh Syamsul Maarif, M.Pd Pendekatan hermeneutik dalam memahami teror kepala babi dan enam tikus memungkinkan kita menggali makna tersembunyi di balik simbol-simbol yang digunakan dalam konteks intimidasi terhadap kebebasan pers. Hermeneutika, sebagai metode interpretatif, menekankan pada pemahaman makna yang tidak hanya bersifat literal, tetapi juga historis, sosial, budaya, dan politis. Dalam kasus ini, pengiriman kepala babi dan tikus ke kantor Tempo bukan hanya sekadar aksi vandalisme, tetapi juga mengandung pesan simbolik yang membutuhkan analisis mendalam terkait konteks budaya, sejarah, dan politik Indonesia. Hermeneutika Simbolisme Kepala Babi dan Tikus Dalam tradisi hermeneutik, makna suatu simbol tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan konteks di mana simbol tersebut digunakan. Berikut adalah interpretasi makna dari simbol kepala babi dan enam tikus berdasarkan pendekatan hermeneutik: 1. Kepala Babi dalam Konteks Budaya, Sejarah, dan Politik • Dalam Budaya Indones...
Recent posts

Runtuhnya Marwah Hukum: Catatan Kritis atas Putusan Pengadilan terhadap Tom Lembong

Ketika hukum kehilangan keberpihakannya pada kebenaran dan keadilan, yang tersisa hanyalah serangkaian prosedur kosong. Putusan pengadilan terhadap Thomas Trikasih Lembong—tokoh publik dengan reputasi integritas yang kuat—menjadi sinyal peringatan bahwa krisis hukum di Indonesia bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang semakin mencolok. Ini bukan hanya perkara satu orang. Ini adalah cerita runtuhnya marwah hukum di negeri hukum. Sosok yang Tak Asing bagi Reformasi Thomas Trikasih Lembong bukanlah figur sembarangan dalam ranah kebijakan publik Indonesia. Alumni Harvard dan mantan eksekutif di sektor keuangan internasional, Tom dikenal luas sebagai teknokrat bersih yang kerap berpikir di luar kotak. Ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan (2015–2016), kemudian dipercaya sebagai Kepala BKPM, dua posisi strategis yang menuntut kecermatan, keberanian, dan integritas tinggi dalam pengambilan kebijakan. Selama masa jabatannya, Lembong dikenal getol mendorong iklim investasi yang lebih s...

Suara Netizen Indonesia: Kebebasan atau Manipulasi?

Di era digital, media sosial telah menjadi wadah utama bagi masyarakat Indonesia untuk menyuarakan pendapat. Dari politik hingga budaya pop, netizen Indonesia dikenal lantang dalam menyampaikan opini. Namun, seberapa murni suara mereka? Apakah benar-benar mencerminkan aspirasi masyarakat atau justru dipengaruhi oleh kepentingan tertentu? Netizen dan Kekuatan Opini Publik Media sosial seperti Twitter, Facebook, dan TikTok kini berperan besar dalam membentuk opini publik. Isu nasional yang mencuat, seperti kebijakan pemerintah atau skandal pejabat, dapat dengan cepat menjadi viral. Tagar dan komentar netizen sering kali memengaruhi kebijakan atau reaksi pejabat publik. Misalnya, saat kasus korupsi pejabat viral, tekanan dari netizen bisa memaksa pemerintah bertindak lebih cepat. Begitu juga dengan isu sosial seperti pelecehan seksual atau ketidakadilan hukum, suara netizen sering kali menjadi pemicu gerakan yang lebih besar. Fenomena Buzzer dan Opini Bayaran Namun, tidak semua opini di m...

Konsep Ahlussunnah Wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama: Prinsip Tawassuth, Tawazun, Tasamuh, dan I’tidal

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd Abstrak Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) merupakan paham keagamaan yang menjadi landasan teologis dan metodologis bagi warga Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU, Aswaja tidak hanya dipahami sebagai doktrin teologi, tetapi juga sebagai manhaj al-fikr (metode berpikir) dalam memahami ajaran Islam secara moderat, toleran, dan seimbang. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep Aswaja ala NU beserta prinsip-prinsip utama yang menjadi karakteristiknya, yaitu tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis karya ulama klasik serta pemikiran ulama NU, terutama pemikiran Hasyim Asy'ari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis serta menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat dan harmonis di tengah masyarakat. Kata kunci: Ahlussunnah Wal Jamaah, Nahdlatul Ulama, moderasi Islam, tawassuth Pendahuluan Ahlu...

PLN dan Tradisi Mati Lampu yang Tak Kunjung Pensiun

Di negeri yang bercita-cita menjadi kekuatan ekonomi besar dunia, ada satu persoalan klasik yang tak kunjung selesai: listrik yang padam berulang. Ironisnya, persoalan mendasar ini terjadi di bawah pengelolaan perusahaan negara raksasa, Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang memegang mandat strategis atas hajat hidup orang banyak. Pemadaman listrik bukan lagi sekadar gangguan teknis insidental. Ketika mati lampu terjadi berulang dalam rentang waktu singkat, dengan pola yang hampir seragam, publik berhak menyebutnya sebagai kegagalan keandalan sistem. Dan dalam konteks infrastruktur vital, kegagalan berulang adalah persoalan tata kelola, bukan sekadar cuaca. Indonesia sedang mendorong transformasi digital, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM. Pemerintah berbicara tentang pusat data, ekosistem startup, elektrifikasi kendaraan, hingga smart city. Semua itu bertumpu pada satu fondasi: pasokan listrik yang stabil. Tanpa listrik yang andal, seluruh narasi kemajuan berubah menjadi retorika...

SEBUTIR RINDU

Di serambi malam aku berdiri, angin musim gugur turun dari utara, membawa bau daun padi dan namamu yang tak selesai disebut. Bulan menggantung di langit seperti lentera istana yang padam setengah, cahayanya jatuh di sungai sunyi— riak air menulis bayangmu, lalu menghapusnya perlahan. Burung angsa terbang melintas awan tipis, sayapnya menyentuh dingin yang sama dengan jarak antara kita. Aku ingin menjadi kabut yang menyusup ke jendela kamarmu, meninggalkan embun di rambutmu yang terurai. Di meja kaca, teh melati mendingin. Uapnya tadi naik seperti doa, kini hanya sisa hangat yang mengendap di dasar cangkir keramik retak. Musim semi pernah berjanji pada bunga persik untuk mekar bersama tawa kita. Namun musim berganti tanpa pamit— daun gugur lebih setia daripada janji manusia. Jika angin malam sampai padamu, biarkan ia menyentuh pipimu dan kau akan tahu: di kota ini seseorang masih menghitung detak waktu dengan sebutir rindu di setiap desah napasnya. 2 Maret 2026

KONSEP ISLAM AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH:

Landasan Teologis, Metodologis, dan Relevansinya di Indonesia Abstrak Artikel ini membahas konsep Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhaj berpikir dan beragama yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, serta tradisi keilmuan ulama klasik. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan historis dan teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Aswaja bukan sekadar aliran teologi, melainkan sistem pemahaman Islam yang mencakup tiga pilar utama: akidah (Asy’ariyah–Maturidiyah), fikih (empat mazhab), dan tasawuf (tasawuf sunni). Dalam konteks Indonesia, Aswaja menjadi fondasi gerakan keagamaan Nahdlatul Ulama dan berperan penting dalam membangun Islam yang moderat, toleran, dan kontekstual. Kata Kunci: Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Aswaja, Akidah, Fikih, Tasawuf, Moderasi Islam Pendahuluan Perkembangan pemikiran Islam pasca wafatnya Rasulullah ﷺ melahirkan berbagai aliran teologi dan mazhab fikih. Perbedaan interpretasi terhadap nash dan realitas sosial...

Petikan Pergumulan Hidup

 Oleh Syamsul Maarif Era 70-80an, Semasa usia SD hingga SLTP, saya tinggal di lingkungan religius, kebetulan desa saya sebagain NU sebagain Muhammadiyah, dan beberapa ada Jamaah juga. Hanya saja benturan zaman itu yang sering terjadi antara NU dan Muhammadiyah saling gasak-gasakan bahkan gesekan. Usia itu sering berangkat sekolah jalan kaki, kebetulan untuk sampai ke sekolah harus melewati daerah basis. Seringkali untuk menghindari pertemuan dengan anak sana, agar tidak terjadi gasakan, ataupun gesekan. Saya melalui jalan trobosan lewat pematang sawah dan kebun. Gesekan pun pernah terjadi, usai main bola, terjadi gesekkan, hingga ada korban luka-luka. Rumah warga jadi sasaran timpuk, hingga genteng rumah pada bocor. Sempat cukup menegangkan, warga takut keluar desa, kalau keluar harus mencari jalan mutar menghindar. Era 90an, Usia SLTA saya tinggal di pesantren, tidak lagi terdengar gasakan antara NU dan Muhammadiyah, akan tetapi yang kami ketahui dan rasakan adanya gasakan antara ...