Di serambi malam aku berdiri, angin musim gugur turun dari utara, membawa bau daun padi dan namamu yang tak selesai disebut. Bulan menggantung di langit seperti lentera istana yang padam setengah, cahayanya jatuh di sungai sunyi— riak air menulis bayangmu, lalu menghapusnya perlahan. Burung angsa terbang melintas awan tipis, sayapnya menyentuh dingin yang sama dengan jarak antara kita. Aku ingin menjadi kabut yang menyusup ke jendela kamarmu, meninggalkan embun di rambutmu yang terurai. Di meja kaca, teh melati mendingin. Uapnya tadi naik seperti doa, kini hanya sisa hangat yang mengendap di dasar cangkir keramik retak. Musim semi pernah berjanji pada bunga persik untuk mekar bersama tawa kita. Namun musim berganti tanpa pamit— daun gugur lebih setia daripada janji manusia. Jika angin malam sampai padamu, biarkan ia menyentuh pipimu dan kau akan tahu: di kota ini seseorang masih menghitung detak waktu dengan sebutir rindu di setiap desah napasnya. 2 Maret 2026
Landasan Teologis, Metodologis, dan Relevansinya di Indonesia Abstrak Artikel ini membahas konsep Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhaj berpikir dan beragama yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, serta tradisi keilmuan ulama klasik. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan historis dan teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Aswaja bukan sekadar aliran teologi, melainkan sistem pemahaman Islam yang mencakup tiga pilar utama: akidah (Asy’ariyah–Maturidiyah), fikih (empat mazhab), dan tasawuf (tasawuf sunni). Dalam konteks Indonesia, Aswaja menjadi fondasi gerakan keagamaan Nahdlatul Ulama dan berperan penting dalam membangun Islam yang moderat, toleran, dan kontekstual. Kata Kunci: Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Aswaja, Akidah, Fikih, Tasawuf, Moderasi Islam Pendahuluan Perkembangan pemikiran Islam pasca wafatnya Rasulullah ï·º melahirkan berbagai aliran teologi dan mazhab fikih. Perbedaan interpretasi terhadap nash dan realitas sosial...