Orang-orang tua dulu sebenarnya sudah lama mengenali watak manusia yang ucapannya berubah-ubah. Karena itu lahirlah ungkapan: “pagi dele, sore tempe.” Sebuah sindiran sederhana untuk orang yang hari ini berkata lain, besok berubah lagi. Dalam bahasa Jawa, perilaku seperti itu disebut mencla-mencle.
Hari ini mendukung, besok menyangkal. Di depan memuji, di belakang ikut mencibir. Ketika bersama kelompok tertentu ia tampak paling yakin, tetapi begitu suasana berubah, pendapatnya ikut berbalik arah. Seolah-olah pikirannya tidak pernah benar-benar memiliki pijakan.
Anehnya, perilaku seperti ini sekarang semakin sering terlihat. Bukan hanya dalam pergaulan biasa, tetapi juga dalam dunia kerja, organisasi, bahkan kehidupan bermasyarakat. Banyak orang lebih sibuk mencari posisi aman daripada menjaga konsistensi sikap. Yang penting diterima semua pihak, meskipun harus mengorbankan kejujuran ucapannya sendiri.
Padahal orang mencla-mencle bukanlah orang yang berpikir matang. Justru sering kali sebaliknya. Ia tidak memiliki arah yang jelas, tidak punya ukuran yang kuat dalam menentukan sikap, dan terlalu mudah dipengaruhi keadaan. Hari ini ikut pendapat yang terdengar paling meyakinkan, besok berubah lagi karena mendengar suara lain yang lebih keras.
Orang seperti ini biasanya sulit membuat keputusan yang tegas. Dalam pekerjaan berubah-ubah. Dalam rencana hidup mudah berganti arah. Dalam berbicara pun sering menyesuaikan lawan bicara. Akibatnya, ucapannya tidak lagi punya bobot karena terlalu sering berubah mengikuti suasana.
Yang lebih berbahaya, perilaku mencla-mencle perlahan dianggap biasa. Orang tidak lagi malu berubah sikap demi keuntungan sesaat. Hari ini mengkritik sesuatu, besok membelanya mati-matian hanya karena keadaan berubah. Seolah pendirian bisa diganti kapan saja seperti mengganti pakaian.
Padahal manusia tanpa keteguhan sikap akan mudah kehilangan dirinya sendiri. Ia hidup bukan berdasarkan keyakinan, tetapi berdasarkan arah angin. Ke mana ramai bergerak, ke situ ia ikut berjalan.
Orang yang memiliki pendirian memang belum tentu selalu benar. Namun setidaknya ia memiliki keberanian untuk memegang apa yang diyakininya. Sedangkan orang mencla-mencle sering kali bahkan tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia yakini.
Karena itu ungkapan “pagi dele, sore tempe” tetap relevan sampai hari ini. Ia bukan sekadar peribahasa lama, melainkan kritik sosial terhadap manusia yang terlalu mudah berubah demi kenyamanan dan kepentingannya sendiri.
Sebab pada akhirnya, masyarakat mungkin masih mau mendengar orang yang salah. Tetapi masyarakat akan sulit mempercayai orang yang terus berubah-ubah ucapan dan sikapnya.
