Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Politik

Tertawa agar Tidak Punah

Sejarah manusia tidak hanya ditulis oleh darah, perintah, dan kemenangan. Ia juga disusun oleh tawa—tawa yang sering lahir di lorong sempit kehidupan, jauh dari mimbar kekuasaan. Humor bukan sekadar selingan; ia adalah cara manusia menyelamatkan akalnya sendiri ketika dunia terlalu absurd untuk dijelaskan dengan logika yang lurus. Pada masa ketika berkata jujur dapat berakhir pada hukuman, kebenaran tidak menghilang. Ia bersembunyi. Ia menyamar sebagai lelucon, berpindah dari mulut ke mulut, berpakaian ringan agar tidak dicurigai. Humor menjadi bahasa rahasia manusia untuk tetap waras di tengah ketidakwarasan yang dilembagakan. Kisah Abu Nawas dan Khalifah Harun ar-Rasyid adalah contoh klasik bagaimana humor bekerja sebagai siasat hidup. Abu Nawas hidup di pusat kekuasaan, tempat satu kata bisa berujung kepala tergelinding. Ia tahu, kejujuran yang telanjang terlalu mahal harganya. Maka ia memilih jalan yang berliku. Ketika diperintahkan memilih hukuman bagi dirinya sendiri, Abu Nawas b...

Dirty Vote II (O³): Ketika Demokrasi Tak Lagi Milik Rakyat

Ketika film dokumenter Dirty Vote pertama tayang pada Februari 2024, publik dibuat terhenyak. Tiga ahli hukum berbicara tanpa tedeng aling-aling tentang bagaimana kekuasaan memelintir aturan untuk memenangkan kontestasi politik. Kini, hampir setahun berselang, Dirty Vote II (O³) hadir — lebih panjang, lebih berani, dan lebih getir. Film ini bukan sekadar lanjutan, melainkan autopsi atas tubuh demokrasi Indonesia. Ia menelanjangi relasi kuasa yang makin kompleks: “Otot, Otak, dan Ongkos” (O³) — tiga pilar yang kini menopang kekuasaan di republik ini. Otot, Otak, dan Ongkos: Segitiga Besi Kekuasaan Dandhy Dwi Laksono dan Watchdoc kembali memperlihatkan bagaimana demokrasi kita disandera oleh sistem yang tampak legal, tapi sarat manipulasi. Otot melambangkan kekuatan koersif negara — aparat, lembaga penegak hukum, dan struktur birokrasi — yang bisa diarahkan untuk menekan atau mengamankan kepentingan tertentu. Otak mewakili desain hukum dan regulasi yang disusun sedemikian rupa untuk memb...

Refleksi atas Film Dirty Vote: Mendidik Kesadaran Politik di Era Demokrasi yang Ternoda

Film dokumenter Dirty Vote karya Dandhy Dwi Laksono mengguncang kesadaran publik Indonesia menjelang Pemilu 2024. Film ini tidak sekadar menyuguhkan informasi, tetapi menjadi cermin tajam tentang praktik kekuasaan dan moralitas politik. Tiga pakar hukum tata negara — Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar — mengurai bagaimana kekuasaan bisa memanipulasi hukum, kebijakan, dan aparat negara demi kepentingan elektoral. Sebagai bahan pendidikan politik, film ini membuka ruang dialog kritis tentang makna demokrasi sejati, etika kepemimpinan, dan tanggung jawab warga negara dalam menjaga kedaulatan rakyat. Mari kita analisis, pertama Kekuasaan dan Manipulasi Demokrasi. Demokrasi seharusnya menjamin kesetaraan hak dan keadilan politik. Namun, Dirty Vote menyingkap bagaimana kekuasaan ekonomi dan politik dapat digunakan untuk menekan sistem agar berpihak pada kelompok tertentu. Fenomena seperti politik dinasti, bansos yang dipolitisasi, dan lemahnya lembaga pengawas pemilu men...