Skip to main content

Tertawa agar Tidak Punah

Sejarah manusia tidak hanya ditulis oleh darah, perintah, dan kemenangan. Ia juga disusun oleh tawa—tawa yang sering lahir di lorong sempit kehidupan, jauh dari mimbar kekuasaan. Humor bukan sekadar selingan; ia adalah cara manusia menyelamatkan akalnya sendiri ketika dunia terlalu absurd untuk dijelaskan dengan logika yang lurus.
Pada masa ketika berkata jujur dapat berakhir pada hukuman, kebenaran tidak menghilang. Ia bersembunyi. Ia menyamar sebagai lelucon, berpindah dari mulut ke mulut, berpakaian ringan agar tidak dicurigai. Humor menjadi bahasa rahasia manusia untuk tetap waras di tengah ketidakwarasan yang dilembagakan.
Kisah Abu Nawas dan Khalifah Harun ar-Rasyid adalah contoh klasik bagaimana humor bekerja sebagai siasat hidup. Abu Nawas hidup di pusat kekuasaan, tempat satu kata bisa berujung kepala tergelinding. Ia tahu, kejujuran yang telanjang terlalu mahal harganya. Maka ia memilih jalan yang berliku. Ketika diperintahkan memilih hukuman bagi dirinya sendiri, Abu Nawas berkata, “Hukumlah aku dengan hukuman yang paling ringan, karena aku manusia lemah.” Harun ar-Rasyid tertawa—dan di situlah keselamatannya. Dalam tawa sang khalifah, hukuman berubah menjadi ampunan.
Dalam guyon lain, ketika Abu Nawas ditanya mengapa ia tampak selalu tenang di hadapan penguasa, ia menjawab, “Karena aku tahu, yang paling ditakuti raja bukan musuh, melainkan cermin.” Humor Abu Nawas bukan sekadar kecerdikan personal; ia adalah kritik halus atas kekuasaan yang takut pada pantulan dirinya sendiri. Ia mengajarkan bahwa penguasa bisa ditantang tanpa ditantang, dilawan tanpa perlawanan terbuka.
Humor semacam ini bukan pengecut. Ia justru lahir dari keberanian yang memahami medan. Abu Nawas tidak membenturkan kepala ke tembok kekuasaan; ia membuat tembok itu terlihat retak dengan tawa. Di situlah daya rusaknya: humor tidak menghancurkan secara langsung, tetapi merontokkan kewibawaan sedikit demi sedikit.
Pola ini berulang dalam sejarah. Badut istana, pelawak rakyat, hingga satiris modern menjalankan peran yang sama: mengatakan yang tak bisa dikatakan. Ketika hukum dan senjata mengawal kekuasaan, humor masuk lewat celah yang diabaikan. Ia tampak remeh, padahal menyimpan daya ingat kolektif tentang ketidakadilan dan kemunafikan.
Humor juga bekerja sebagai alat bertahan dari absurditas hidup sehari-hari. Janji yang berulang tanpa hasil, aturan yang berubah-ubah tanpa arah, dan bahasa kekuasaan yang makin jauh dari pengalaman nyata rakyat—semua itu terlalu pahit untuk ditanggapi dengan kemarahan terus-menerus. Maka manusia tertawa, bukan karena menyerah, tetapi karena menolak gila.
Di zaman kini, humor menjelma lebih singkat dan lebih liar. Ia muncul dalam meme, satire singkat, dan guyonan anonim. Kekuasaan mencoba merangkulnya, mengundangnya ke panggung resmi, menjadikannya tanda keterbukaan. Namun humor yang jinak hanya menenangkan; humor yang sejati selalu sedikit berbahaya. Ia tidak mencari izin, dan tidak merasa perlu menjelaskan diri.
Pada titik inilah humor menunjukkan fungsinya yang paling mendasar: menjaga manusia tetap manusia. Ia memberi jarak antara diri dan penderitaan, antara rakyat dan penguasa, antara kenyataan dan absurditasnya. Tanpa jarak itu, hidup hanya akan menjadi barisan perintah yang dijalani tanpa kesadaran.
Karena itu, sejarah humor bukanlah sejarah tawa kosong. Ia adalah catatan panjang tentang kecerdikan manusia menghadapi hidup yang sering tidak adil dan tidak masuk akal. Sejarah humor adalah sejarah cara manusia bertahan dari absurditas hidup. Ketika kebenaran terlalu pahit untuk diucapkan secara langsung, manusia memilih tertawa.

Esai Karya Syams

Popular posts from this blog

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...