Skip to main content

Posts

Showing posts with the label tertawa

Tertawa agar Tidak Punah

Sejarah manusia tidak hanya ditulis oleh darah, perintah, dan kemenangan. Ia juga disusun oleh tawa—tawa yang sering lahir di lorong sempit kehidupan, jauh dari mimbar kekuasaan. Humor bukan sekadar selingan; ia adalah cara manusia menyelamatkan akalnya sendiri ketika dunia terlalu absurd untuk dijelaskan dengan logika yang lurus. Pada masa ketika berkata jujur dapat berakhir pada hukuman, kebenaran tidak menghilang. Ia bersembunyi. Ia menyamar sebagai lelucon, berpindah dari mulut ke mulut, berpakaian ringan agar tidak dicurigai. Humor menjadi bahasa rahasia manusia untuk tetap waras di tengah ketidakwarasan yang dilembagakan. Kisah Abu Nawas dan Khalifah Harun ar-Rasyid adalah contoh klasik bagaimana humor bekerja sebagai siasat hidup. Abu Nawas hidup di pusat kekuasaan, tempat satu kata bisa berujung kepala tergelinding. Ia tahu, kejujuran yang telanjang terlalu mahal harganya. Maka ia memilih jalan yang berliku. Ketika diperintahkan memilih hukuman bagi dirinya sendiri, Abu Nawas b...