Skip to main content

PLN dan Tradisi Mati Lampu yang Tak Kunjung Pensiun

Di negeri yang bercita-cita menjadi kekuatan ekonomi besar dunia, ada satu persoalan klasik yang tak kunjung selesai: listrik yang padam berulang. Ironisnya, persoalan mendasar ini terjadi di bawah pengelolaan perusahaan negara raksasa, Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang memegang mandat strategis atas hajat hidup orang banyak.
Pemadaman listrik bukan lagi sekadar gangguan teknis insidental. Ketika mati lampu terjadi berulang dalam rentang waktu singkat, dengan pola yang hampir seragam, publik berhak menyebutnya sebagai kegagalan keandalan sistem. Dan dalam konteks infrastruktur vital, kegagalan berulang adalah persoalan tata kelola, bukan sekadar cuaca.
Indonesia sedang mendorong transformasi digital, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM. Pemerintah berbicara tentang pusat data, ekosistem startup, elektrifikasi kendaraan, hingga smart city. Semua itu bertumpu pada satu fondasi: pasokan listrik yang stabil. Tanpa listrik yang andal, seluruh narasi kemajuan berubah menjadi retorika kosong.
Setiap kali listrik padam, dampaknya nyata dan langsung. Pelaku usaha kecil merugi karena bahan makanan rusak. Pekerja daring kehilangan produktivitas dan reputasi profesional. Anak-anak terganggu belajar. Perangkat elektronik rusak akibat arus tak stabil. Kerugian ekonomi mikro ini mungkin tidak selalu masuk headline, tetapi ia menggerogoti daya tahan masyarakat sedikit demi sedikit.
PLN berada dalam posisi monopoli alami. Dalam teori ekonomi, monopoli pada sektor strategis dibenarkan demi stabilitas nasional. Namun monopoli juga mengandung risiko: minimnya tekanan kompetitif untuk memperbaiki kualitas layanan. Ketika pelanggan tidak punya alternatif, standar pelayanan bisa terjebak pada ambang “cukup”, bukan “unggul”.
Penjelasan yang kerap muncul — gangguan jaringan, beban puncak, pemeliharaan, cuaca ekstrem — secara teknis bisa diterima. Namun secara manajerial, pertanyaannya lebih dalam:
Apakah mitigasi risiko sudah optimal?
Apakah investasi pada jaringan distribusi dan redundansi sistem sudah memadai?
Apakah transparansi informasi gangguan disampaikan secara detail dan real-time?
Publik tidak menuntut kesempurnaan. Gangguan bisa terjadi di negara mana pun. Tetapi yang dituntut adalah kepastian durasi, kejelasan penyebab, dan perbaikan yang tidak repetitif. Jika pemadaman terjadi lagi dan lagi dengan pola serupa, maka yang bermasalah bukan sekadar kabel atau gardu, melainkan sistem pengelolaan.
Ada pula soal keadilan relasi layanan. Tagihan listrik memiliki disiplin yang tegas. Keterlambatan berujung denda atau pemutusan. Namun ketika layanan terganggu, kompensasi sering terasa simbolik dibandingkan dampak yang ditanggung masyarakat. Hubungan antara penyedia dan pelanggan menjadi timpang: kewajiban jelas, akuntabilitas terasa samar.
Sebagai BUMN strategis, PLN bukan hanya entitas bisnis. Ia adalah representasi negara dalam menyediakan kebutuhan dasar. Setiap kali listrik padam tanpa kepastian, yang ikut tergerus bukan hanya kenyamanan, tetapi juga kepercayaan publik.
Transformasi tidak cukup diukur dari proyek besar, pembangkit baru, atau laporan kinerja yang impresif. Transformasi sejati diukur dari pengalaman warga sehari-hari: apakah listrik menyala stabil atau tidak.
Tradisi mati lampu seharusnya sudah pensiun dari kamus pelayanan publik modern. Jika Indonesia ingin benar-benar melompat ke level negara maju, maka keandalan listrik bukan lagi target tambahan — melainkan prasyarat minimum.
Karena listrik stabil bukan kemewahan. Ia adalah standar dasar peradaban.

Popular posts from this blog

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...