Pendahuluan
Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merupakan paham keagamaan Islam yang berpegang pada Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas dengan mengikuti manhaj para ulama salaf dan khalaf. Dalam konteks Indonesia, Aswaja berkembang menjadi corak Islam moderat yang menekankan keseimbangan antara akidah, syariat, dan akhlak. Paham ini tidak hanya menjadi ajaran keagamaan, tetapi juga membentuk budaya, pendidikan, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Perjalanan Aswaja di Indonesia berlangsung panjang, mulai dari masa masuknya Islam ke Nusantara, era penjajahan, masa perjuangan kemerdekaan, hingga menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi pada era sekarang.
Masuknya Islam dan Awal Berkembangnya Aswaja di Nusantara
Islam masuk ke Nusantara diperkirakan sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 melalui jalur perdagangan. Para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat membawa ajaran Islam yang kemudian diterima masyarakat secara damai. Corak Islam yang berkembang saat itu sangat dekat dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya dalam bidang:
Akidah mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
Fikih mengikuti mazhab Syafi’i.
Tasawuf mengikuti ajaran Imam Al-Ghazali dan ulama sufi lainnya.
Perkembangan Aswaja semakin kuat ketika para ulama dan wali menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Tokoh yang paling terkenal adalah Wali Songo. Mereka menyebarkan Islam dengan cara damai, menggunakan seni, tradisi, pendidikan, dan pendekatan sosial.
Contohnya:
Penggunaan wayang oleh Sunan Kalijaga.
Pendirian pesantren sebagai pusat pendidikan Islam.
Tradisi tahlilan, selametan, dan maulid yang dipadukan dengan budaya lokal.
Pendekatan ini membuat Islam mudah diterima masyarakat Nusantara tanpa menghilangkan identitas budaya setempat.
Perkembangan Aswaja pada Masa Penjajahan
Pada masa penjajahan Belanda, pesantren menjadi benteng utama penyebaran Ahlussunnah wal Jamaah. Para kiai tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan semangat perjuangan melawan penjajah.
Pesantren-pesantren di Jawa, Madura, Sumatra, dan daerah lain melahirkan banyak ulama pejuang. Kitab-kitab klasik atau kitab kuning menjadi dasar pendidikan Aswaja. Materi yang diajarkan meliputi:
Tauhid Asy’ariyah dan Maturidiyah.
Fikih mazhab Syafi’i.
Tasawuf dan akhlak.
Pada awal abad ke-20 muncul berbagai gerakan pembaruan Islam. Di tengah perubahan tersebut, ulama Aswaja merasa perlu membentuk organisasi untuk menjaga ajaran Islam moderat dan tradisional.
Tahun 1926 berdirilah Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama lainnya. NU menjadi organisasi yang secara jelas menjadikan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai dasar pemikiran dan gerakan.
Tujuan utama NU saat itu antara lain:
- Menjaga ajaran mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.
- Melindungi tradisi pesantren.
- Membela kepentingan umat Islam pribumi.
- Menentang penjajahan.
Aswaja dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Peran ulama Aswaja sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak kiai dan santri ikut berjuang secara fisik maupun spiritual melawan penjajah.
Salah satu peristiwa penting adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang diprakarsai oleh KH Hasyim Asy'ari. Resolusi ini mewajibkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah.
Semangat jihad tersebut memicu perlawanan rakyat dalam Pertempuran Surabaya yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Dalam pandangan Aswaja, cinta tanah air menjadi bagian penting dari keimanan. Prinsip:
“Hubbul wathan minal iman”
(cinta tanah air adalah bagian dari iman)
menjadi semangat perjuangan para ulama dan santri.
Perkembangan Aswaja pada Masa Orde Lama dan Orde Baru
Setelah Indonesia merdeka, Aswaja terus berkembang melalui pesantren, madrasah, dan organisasi masyarakat. NU berperan besar dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan politik.
Pada masa Orde Lama, NU sempat menjadi partai politik. Namun kemudian fokus kembali pada dakwah dan pendidikan masyarakat.
Pada era Orde Baru, pesantren berkembang pesat. Banyak lembaga pendidikan Islam berdiri dengan corak Aswaja. Tradisi keagamaan seperti:
- tahlilan,
- istighasah,
- maulid nabi,
- yasinan,
- dan ziarah kubur
tetap dipertahankan sebagai bagian budaya Islam Nusantara.
Aswaja juga dikenal sebagai paham Islam yang moderat, toleran, dan menghargai perbedaan. Sikap ini membuat Islam di Indonesia relatif damai dibandingkan banyak negara lain.
Aswaja di Era Reformasi dan Modernisasi
Memasuki era reformasi, perkembangan teknologi dan globalisasi membawa tantangan baru bagi Ahlussunnah wal Jamaah. Muncul berbagai paham keagamaan yang lebih keras, radikal, atau mudah menyalahkan tradisi masyarakat.
Di tengah tantangan tersebut, ajaran Aswaja tetap relevan karena mengajarkan:
- tawassuth (moderat),
- tawazun (seimbang),
- tasamuh (toleran),
- dan i’tidal (adil).
Pesantren kini tidak hanya mengajarkan kitab klasik, tetapi juga ilmu modern, teknologi, ekonomi, hingga kewirausahaan. Banyak perguruan tinggi berbasis NU dan Aswaja berdiri di berbagai daerah Indonesia.
Selain itu, dakwah Aswaja mulai berkembang melalui media digital:
- YouTube,
- podcast,
- media sosial,
- dan platform pendidikan online.
Generasi muda mulai mengenal konsep “Islam Nusantara”, yaitu cara beragama yang ramah, damai, dan sesuai budaya Indonesia tanpa meninggalkan ajaran Islam.
Tantangan Aswaja Masa Kini
Walaupun berkembang luas, Aswaja menghadapi beberapa tantangan, antara lain:
Penyebaran paham radikal melalui internet.
Menurunnya minat generasi muda terhadap kajian kitab klasik.
Polarisasi politik yang memanfaatkan agama.
Arus budaya global yang memengaruhi moral masyarakat.
Karena itu, para ulama dan lembaga pendidikan terus berupaya memperkuat pendidikan karakter, akhlak, dan moderasi beragama agar Aswaja tetap menjadi pedoman umat Islam Indonesia.
Penutup
Ahlussunnah wal Jamaah telah menjadi bagian penting dalam sejarah Islam Indonesia. Sejak masa penyebaran Islam oleh Wali Songo, masa penjajahan, perjuangan kemerdekaan, hingga era modern saat ini, Aswaja selalu hadir sebagai ajaran yang moderat, damai, dan membumi.
Perkembangan Aswaja di Indonesia menunjukkan bahwa Islam dapat berjalan harmonis dengan budaya lokal, nasionalisme, dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Aswaja menjadi tanggung jawab bersama agar Islam di Indonesia tetap rahmatan lil ‘alamin, membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.
Dutulis oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd, sebagai bahan bacaan untuk matakuliah keNUan.
