Skip to main content

Hermeneutics

Hermeneutics is the art of understanding, but also a wide range of different approaches in the context of scholars such as Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey and Martin Heidegger (Maclean 1986; see also Johnsen and Olsen, 1992: 420-423, 429f.). In this work, the important is the hermeneutics of Hans-Georg Gadamer, in his magnum opus Truth and Method (1975).
Understanding interpretation as a time lag

Most importantly, Gadamer has made it clear that he, hermeneutics is not a method for understanding, but an attempt "to clarify the conditions in which understanding takes place" (Gadamer 1975: 263). Under such conditions are crucial, prejudices and fore-meanings in the minds of the interpreters. Understanding is always interpretation, and it means confronting his own ideas, so that the meaning of the object can be really, talk to us (Gadamer 1975: 358). Understanding is not only a reproductive, but a very productive process, and interpretation is always changing during the reception of the story of what is understood.

One of the biggest problems is with Gadamer is how to distinguish 'true prejudices "with which we understand from the" wrong "to which we misunderstand. He proposes as a solution to the development of a" historical "self-awareness to raise awareness of their own prejudices and allows one to isolate and evaluate an object on itself: but I am unsure how this can work and, more importantly, how to always be sure that Gadamer's position as a whole (see below ), the view of an object "on its own" (Gadamer 1975: 266f., see also 269f.; CF. Maclean 1986: 133f.).

Another important prerequisite to the understanding of the place, time interval. For Gadamer, past and present are firmly connected and the past is not something that is too painful back into the individual steps:

"Time is no longer primarily a gulf to be bridged because it separates, but it is actually the reason, the process in which the present is rooted. Therefore, temporal distance is not something that must be overcome. This was much more the naive assumption of historicism, ie we need to deal with the spirit of the time, and think with their ideas and thoughts, not with our own, and therefore the historical objectivity. In fact, important to recognize the gap in time as a positive and productive possibility of understanding. It is not a yawning abyss, but with the continuity of custom and tradition, against the background of all that is is for us. "(Gadamer 1975: 264f. )

Popular posts from this blog

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...