Di ujung Desa Wanasri, tepat di tepi pematang sawah yang membelah kampung, tinggallah seorang lelaki sederhana bernama Sukarman. Ia bukan tokoh penting desa; bukan ketua RT, bukan perangkat desa, bahkan bukan pemilik sawah luas. Ia hanyalah lelaki yang hidup dari bekerja serabutan—kadang menjadi tukang membetulkan pintu rumah warga, kadang membantu menimba air di mushola. Yang ia punya hanya senyum yang tak pernah ditarik dari bibirnya, dan cara bicara yang selalu pelan, seolah takut melukai angin. Namun entah dari mana asalnya, nama Sukarman kerap jadi buah bibir. Bukan dalam bentuk pujian, melainkan dalam bentuk cerita-cerita liar yang beredar persis seperti asap dapur yang beterbangan tanpa arah. Orang bilang ia licik. Ada pula yang bilang ia mau cari muka pada perangkat desa. Yang lebih kejam, ada yang menuduh ia menilep beras bantuan meski ia bahkan tak memiliki akses ke gudang penyimpanan. Padahal, bagi Sukarman sendiri, kehidupan berjalan terlalu sunyi untuk mengurusi hal-hal se...
Di kampung-kampung Jawa, orang sering memakai kata “nglungsumi” untuk menggambarkan ular yang sedang berganti kulit. Lapisan lama terkelupas, jatuh di semak, sementara sang ular melenggang dengan kulit baru yang lebih mengilap. Alam memaknai ini sebagai siklus hidup: bertumbuh, memperbarui diri, menyesuaikan dengan perubahan. Namun dalam kehidupan manusia, kata itu tak selalu bermakna demikian indah. Di warung-warung pagi, di teras masjid selepas magrib, atau di bawah pohon sawo tempat orang menunggu angkot, “nglungsumi” menjadi sindiran halus untuk menggambarkan perubahan perilaku seseorang setelah menerima amanah, jabatan, atau kuasa. Sebuah perubahan yang bukan tumbuh ke dalam, melainkan menebalkan kulit luarnya saja. Di banyak desa Jawa, kita mengenal orang yang dulu biasa saja: nongkrong di pos ronda, ikut kerja bakti tanpa perlu undangan, menaruh wajah teduh saat berbicara pada tetangga. Tetapi ketika kekuasaan menempel di badannya—entah sebagai ketua RT, anggota panitia, staf ke...