Di ujung Desa Wanasri, tepat di tepi pematang sawah yang membelah kampung, tinggallah seorang lelaki sederhana bernama Sukarman. Ia bukan tokoh penting desa; bukan ketua RT, bukan perangkat desa, bahkan bukan pemilik sawah luas. Ia hanyalah lelaki yang hidup dari bekerja serabutan—kadang menjadi tukang membetulkan pintu rumah warga, kadang membantu menimba air di mushola.
Yang ia punya hanya senyum yang tak pernah ditarik dari bibirnya, dan cara bicara yang selalu pelan, seolah takut melukai angin.
Namun entah dari mana asalnya, nama Sukarman kerap jadi buah bibir. Bukan dalam bentuk pujian, melainkan dalam bentuk cerita-cerita liar yang beredar persis seperti asap dapur yang beterbangan tanpa arah. Orang bilang ia licik. Ada pula yang bilang ia mau cari muka pada perangkat desa. Yang lebih kejam, ada yang menuduh ia menilep beras bantuan meski ia bahkan tak memiliki akses ke gudang penyimpanan.
Padahal, bagi Sukarman sendiri, kehidupan berjalan terlalu sunyi untuk mengurusi hal-hal seperti itu.
Suatu sore, saat langit desa disambar warna jingga, Sukarman duduk sendirian di bangku bambu di depan rumah. Angin sore membawa aroma padi muda. Ia menatap pematang yang membentang, mencoba meredakan sesak yang tersisa di dadanya.
Tadi siang seorang teman lama, Pardi, menghampirinya di warung kopi. Dengan suara berat, Pardi menyampaikan kabar yang membuat Sukarman seperti ditampar.
“Man, aku dengar kamu lagi dibicarakan orang-orang di balai desa. Katanya, kamu sering memprovokasi warga supaya tidak percaya sama kepala dusun.”
Sukarman terdiam. Provokasi? Ia bahkan jarang ikut rapat desa karena malu, takut suaranya dianggap remeh.
“Aku tahu kamu bukan begitu,” lanjut Pardi. “Cuma… ya begitulah, Man. Ada saja yang tak suka lihat kamu tenang-tenang saja.”
Sukarman hanya tersenyum. Senyum itu tipis, layu, dan hampir tak berbentuk.
Malamnya, seusai salat Isya, ia duduk bersama Mbah Kirun, tetua kampung yang sudah uzur tapi masih sering memberi wejangan. Rumah Mbah Kirun kecil, dindingnya papan, tapi suasananya selalu menenangkan.
“Karman,” kata Mbah Kirun sembari menyeruput teh, “kau tahu, dalam hidup ini, punggung kita adalah sasaran paling empuk.”
Sukarman mengerutkan kening.
“Bagaimana maksudnya, Mbah?”
“Di depanmu, orang bisa tersenyum. Tapi begitu kau berbalik, mereka mulai bicara. Riuh itu selalu berada di belakang punggung, bukan di hadapan.”
Sukarman menunduk. Kata-kata itu menancap, seolah memang ditujukan untuk dirinya.
“Lalu, Mbah… apa saya harus marah? Harus saya datangi satu-satu orang yang bicara buruk tentang saya?”
Mbah Kirun menggeleng perlahan.
“Tidak. Kalau kau hadapi, kau turunkan dirimu ke kubangan yang mereka buat. Dan di sana, semua orang tampak kotor.”
Sukarman terdiam lama.
“Tapi perasaan saya… perih, Mbah,” ucapnya lirih. “Saya paham alasan beberapa mereka membenci saya, karrna saya tidak mau berkompromi dengan mereka. Tapi kalau orang itu membenci saya, terus terang saya tidak paham apa salah saya.”
Mbah Kirun menepuk punggungnya pelan.
“Kau tidak perlu paham alasan orang membencimu. Kadang, mereka membenci sinar yang tak pernah mereka miliki.”
Kalimat itu membuat mata Sukarman sedikit berkaca.
Hari-hari berikutnya, Sukarman tetap menjalani hidup seperti biasa. Ia membetulkan pintu rumah Mak Senah, menusangi kandang ayam milik Pak Mardi, dan membantu bersih-bersih mushola menjelang Jumat. Ia tetap tersenyum ketika berpapasan dengan siapa pun, meski beberapa di antara mereka membalas dengan pandangan dingin.
Rumput yang diinjak berkali-kali pun tetap tumbuh lagi. Begitu pula hati Sukarman.
Tapi ada satu sore yang takkan pernah ia lupakan. Saat itu ia melihat beberapa warga sedang membicarakannya di pos ronda. Suara mereka cukup keras untuk membuatnya mengerti bahwa ia adalah tokoh utama dalam cerita yang mereka karang.
Ia berhenti sejenak, berdiri di balik semak tanpa sengaja. Ia mendengar sebagian, dan itu cukup membuat jantungnya terasa tercekat. Ada tuduhan, ada caci, ada prasangka yang bahkan tidak masuk akal.
Lalu, ia mengambil langkah mundur. Pelan. Tanpa suara.
Ia lebih memilih pulang lewat jalan setapak melewati sungai, meski jaraknya dua kali lipat lebih jauh.
Sambil berjalan, ia memejamkan mata sejenak. Ada luka yang menetes, tetapi ia biarkan saja.
“Biarlah,” gumamnya pada diri sendiri. “Riuh itu memang lahir untuk berada di belakang punggung.”
Beberapa bulan kemudian, saat banjir kecil melanda desa, Sukarman adalah orang pertama yang menyingsingkan celana untuk membantu warga memindahkan barang-barang. Ia menggendong anak Pak Tarno yang demam. Ia memanggul karung beras Mak Jum. Ia membuka pintu rumahnya untuk menampung dua keluarga yang kebanjiran.
Pada hari itu, banyak mata tersadar.
Tapi Sukarman tidak pernah meminta pengakuan.
Ia tahu, kebaikan bukanlah uang kembalian yang harus dihitung. Ia hanya melakukan apa yang menurut hatinya benar.
Sementara itu, riuh belakang punggung mulai perlahan mereda. Tidak hilang sepenuhnya, namun kehilangan tajamnya.
Orang-orang mulai melihat bahwa cerita-cerita lama itu tak lebih dari kabut yang mudah tersibak cahaya. Bahwa lelaki yang mereka bicarakan buruk itu ternyata justru lebih cepat menolong daripada mereka yang paling lantang menggunjing.
Pada suatu senja, Sukarman kembali duduk di bangku bambunya. Angin membawa harum tanah basah setelah hujan. Ia menghela napas lega.
Dalam hatinya, ada kalimat yang ia petik dari perjalanan panjang itu:
“Tidak semua orang akan mengerti kita. Dan itu tidak apa-apa.”
Sebab, selama niatnya lurus, selama langkahnya teguh, selama kebaikannya tidak ia tinggalkan, maka riuh di belakang punggung tidak akan pernah mampu menghalangi langkah ke depan.
Dan di kampung kecil itu, di antara suara katak dan desir angin, seorang lelaki bernama Sukarman terus berjalan—sunyi, jernih, dan kuat tanpa perlu banyak kata.
Cerpen karya Syam
