Skip to main content

Lelah, Tanpa Upah

Bardi, lelaki desa yang setia pada kerja sosialnya, terus menyalakan semangat tanpa upah. Tapi di balik ketulusan itu, ada luka kecil yang terus tumbuh—tentang nama yang tercatat, tapi hidup yang tak pernah dihitung.

---
Kabut pagi masih menggantung di pucuk randu ketika Bardi menyalakan motor tuanya. Asap putih keluar dari knalpot seperti napas orang tua yang letih. Di boncengan, terikat gulungan spanduk dan beberapa brosur lusuh yang sudah basah kena embun malam.

Ia berangkat lagi. Dari dusun ke dusun, dari gang sempit ke balai RW. Kadang disambut dengan senyum, kadang dengan pandangan curiga.
“Ini program apa, Pak? Ada duitnya?” tanya seorang warga.
Bardi hanya tersenyum. “Tidak, Bu. Tapi ini untuk kebaikan bersama.”

Sudah dua minggu ia berkeliling, menempel spanduk, membagi brosur, mencatat nama-nama yang mau bergabung. Tak ada gaji, tak ada janji. Hanya kalau ada rapat di kecamatan, ia dapat amplop kecil berisi uang transport. Kadang cukup untuk bensin, kadang tidak. Tapi Bardi jarang mengeluh.

Di kantor kecamatan, anak-anak muda bekerja dengan komputer. Mereka menyalin nama-nama hasil kerja Bardi ke layar, memeriksa ejaan, lalu mengirim laporan ke pusat. Dari laporan itulah, katanya, dana keluar. Dari data itulah, gaji cair.

“Bagus, Pak Bardi. Datanya lengkap,” kata salah satu dari mereka tanpa menoleh.
Bardi mengangguk. Ia tak tahu, bahwa di balik senyum itu, nilai keringatnya sedang berubah jadi angka di spreadsheet yang bersih dari debu.

---
Sore itu, Bardi duduk di warung Mbok Sri. Tangannya hitam oleh debu jalanan, bajunya lembab oleh peluh. Di meja bambu, teh hangat mengepul, dan dari radio tua terdengar berita tentang “tim administrasi yang berprestasi”.

Ia tertawa kecil. Tertawa yang hambar.
Di kepalanya melintas wajah para pegawai muda bersepatu mengilap, duduk di ruangan berpendingin, memegang pena tanpa tahu seperti apa kerasnya matahari di jalan tanah.

Malam hari, ia pulang ke rumahnya di pinggir sawah. Wagini, istrinya, sudah menyiapkan nasi jagung dan tumis daun pepaya. Lampu minyak bergoyang lembut.
“Dapat uang bensin, Pak?” tanya Wagini pelan.
“Belum. Katanya nanti pas rapat.”
“Rapatnya kapan?”
“Entahlah. Minggu depan, mungkin.”

Wagini diam. Ia tahu isi dompet suaminya. Anak bungsunya butuh sepatu baru, tapi mereka harus menunggu. Kadang ia ingin marah, tapi pada siapa? Bardi hanya menatap piringnya, mengunyah perlahan, menelan keheningan yang pahit.

---
Beberapa hari kemudian, datang kabar dari tetangga.
“Pak Bardi, katanya yang di kantor digaji tetap, ya?”
“Mungkin begitu,” jawab Bardi pendek.
“Yang di lapangan kok tidak?”
Ia tersenyum. “Namanya juga kerja sosial.”
Tapi malam itu, ia sulit tidur. Ia menatap langit-langit rumah yang retak, mendengar dengung nyamuk seperti bisik-bisik yang mengganggu. Dalam pikirannya muncul nama-nama warga yang dulu ia bujuk dengan sabar. Semua kini tercatat dalam laporan.
Semua—kecuali dirinya.

---
Keesokan harinya, ia memberanikan diri datang ke kantor kecamatan. Ingin memastikan.
Seorang petugas muda menyapanya tanpa senyum.
“Oh, Pak Bardi. Iya, datanya sudah kami terima. Terima kasih, ya.”
Bardi menunduk sopan. “Kalau untuk honor, bagaimana, Mas?”
“Oh, itu bukan bagian saya, Pak. Tapi biasanya untuk staf dan admin pusat. Bapak kan relawan.”
Kata relawan terdengar seperti cap yang membatasi.
Relawan: boleh bekerja keras, tapi jangan berharap bayaran.
“Baik, Mas,” katanya lirih. “Yang penting nama saya tercatat.”
Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah pelan. Meja-meja di dalam tampak licin, mengilap, dan sunyi. Di luar, udara terasa berat, seperti menahan sesuatu yang tak bisa diucapkan.

---
Di perjalanan pulang, Bardi berhenti di tepi sawah. Motor tuanya mati mendadak. Ia duduk di pematang, memandang langit senja yang memerah. Di sana, matahari seperti luka yang perlahan menutup.
Ia berpikir: mungkin beginilah nasib orang kecil — bekerja di lapangan, tapi tak pernah masuk hitungan.
Ia teringat Wagini, teringat rumahnya yang mulai lapuk, dan anak-anak yang tetap tersenyum meski lauknya hanya sambal garam.
“Yang penting tercatat,” gumamnya pelan, entah kepada siapa.

---
Malam tiba. Lampu minyak menyala redup. Wagini duduk di sampingnya.
“Bagaimana tadi di kantor, Pak?”
“Katanya sudah dicatat.”
“Dicatat apa?”
“Nama saya.”

Wagini menatap wajah suaminya lama sekali. Ia tahu, suaminya bukan marah, bukan pula kecewa. Tapi di balik ketenangan itu ada luka yang menolak sembuh — luka karena kesetiaan yang tak dihargai.

Di luar, suara kodok bersahutan. Angin menyusup dari celah dinding bambu.
Bardi memejamkan mata. Di dalam dirinya, ia seperti mendengar bisikan lembut dari tempat yang jauh:

“Yang tak tercatat di laporan manusia, mungkin sedang dicatat di tempat lain.”

Dan malam itu, bulan separuh tergantung di langit — pucat, tapi tetap menyala.
Seperti Bardi.
Yang meski tak bergaji, tak pernah padam.

Karya : Syam

Popular posts from this blog

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...