Oleh Syamsul Maarif Dalam dunia kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi sering kali menjadi senjata utama untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Namun, bagaimana jika komunikasi tersebut berubah menjadi alat manipulasi? Fenomena ini semakin nyata ketika seorang pemimpin belajar dari pembohong publik—mereka yang lihai memainkan kata-kata untuk menutupi realitas yang sebenarnya. Salah satu contoh paling mencolok adalah ketika tindakan nyata yang diambil penuh dengan pemborosan, tetapi yang digaungkan justru narasi tentang "efisiensi." Retorika yang Menghegemoni "Efisiensi" adalah kata yang mudah diterima oleh publik. Ia mencerminkan janji akan pengelolaan sumber daya yang bijak, penghematan anggaran, dan kinerja yang optimal. Namun, dalam tangan seorang pemimpin yang terinspirasi oleh pembohong publik, kata ini menjadi alat untuk menciptakan ilusi. Setiap kebijakan, meski boros dan tidak produktif, dibalut dengan narasi efisiensi yang terus-menerus digaungkan. Konfe...
"Anthology of Syams' Works" bring together essays, short stories, opinion pieces, and articles that reflect critical engagement with social, cultural, and human realities. Through a calm yet incisive voice, these works explore meaning beyond facts, inviting readers into a space of reflection, empathy, and interpretation rather than definitive answers.