Oleh Syamsul Maarif
Ada momentum bersatunya umat Islam kembali setelah sekian lama berbenturan hingga partai-partai Islam pun perolehan kursinya di DPR kalah telak dengan partai-partai nasionalis.
Apakah momentum ini akan digunakan oleh umat Islam, atau membiarkan momentum ini pergi, hingga entah kapan lagi menemukan momentum seperti ini akan datang lagi?
Coba diskusikan dan cermati dengan akal sehat, dengan menghindari judgmen kebencian.
Mbah Hasyim Asyari telah mejelaskan dengan gamblang dalam tulisannya berjudul At-Tibyan fin Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan (1926), dimana dalam mukaddimahnya mengatakan;
"Segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menjadikan silaturahim sebagai ibadah yang paling utama, dan memutuskan silaturahim sebagai perbuatan dosa yang paling tercela dan keburukan yang paling keji (kotor).
Hal itu telah disebutkan dalam hadits hadits sahih dari Rasulullah, sang pembawa syari’at, semoga Allah melimpahkan rahmat yang paling utama dan keselamatan yang sempurna atas beliau, shahabat beliau, para pemimpin yang tinggi ilmunya.
Kemudian beliau mengutip Firman Allah SWT, surat An Nisa Ayat 1 yang artinya:
“peliharalah diri kalian dari siksa Allah, yang dengan menggunakan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim (takutlah kamu memutuskannya). Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian”.
Kemudia beliau menambahkan lagi dengan mengutip surat Muhammad Ayat 22-23 yang artinya:
"Maka apakah jika kalian berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim? Merekalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah, ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka. Apakah mereka tidak memerhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci?”
Betapa saat itu, zaman pra kemerdekaan, Penguasa Belanda tidak ingin Islam di negri ini bersatu dan lantang berjuang memerdekakan Bangsa ini. Sehingga politik Belanda yang terkenal dengan devide et imperanya mencabik-cabik, menyusup kemana saja yang bisa disusupi, dengan segala cara mereka lakukan hingga pada akhirnya bangsa ini akhirnya bergejolak, dimana umat Islam pecah belah, ajaran-ajaran sesat menyebar, fitnah-fitnah keji diumbar, yang menjadikan umat Islam saling menjatuhkan satu sama lain.
Ahmad Nurkholis, dalam resume tulisannya menjelaskan risalah ‘Al-Mawaidh’ yang termuat sebagai bagian dari kitab at-Tibyan, Ia mengutip Martin van Bruinessen menyatakan bahwa risalah ini disampaikan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam suatu forum ulama. Forum tersebut dihadiri para tokoh dan ulama dari berbagai organisasi Islam yang ada di Indonesia. Di antaranya organisasi Syarikat Islam (SI), Persatuan Islam (Persis), Persatuan Ulama Islam (PUI), Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), Muhammadiyyah, dan Nahdlatul Ulama. Diselenggarakan pada tahun 1937, dalam Al-Mawaidz Hadratussyekh Hasyim Asy’ari menyampaikan perlunya persatuan umat Islam Indonesia. Dengan semangat izzul Islam, mencari titik temu, dan mempermaklumkan perbedaan persoalan cabang agama.
Saat ini sepertinya penting untuk menjaga kembali semangat Izzul Islam, mencari titik temu dan mempermaklumkan perbedaan cabang agama demi terciptanya persatuan antar umat Islam, yang dewasa ini secara sadar atau tidak sadar, faktanya sesama umat Islam saling mencela, membenci, bahkan tidak segan-segan mengharamkan, bahkan mengkafirkan jika ada yang bergabung dengan golongan yang padahal se-Islam.
Rasa-rasanya perilaku semacam itu jika saja mbah Hasyim Asyari masih ada tentu akan mengobarkan kembali semangat Izzul Islam.
Kita masih ingat bagaimana Gus Dur, sang cucu mbah Hasyim, dengan semangat Izzul Islamnya melawan kedholiman penguasa orde baru dengan tanpa menyimpan sentimen dendam, melainkan fokus dengan argumentasinya, hingga akhirnya memperoleh hasil perjuangannya di tahun 1998, dengan tumbangnya orde baru, sehingga 1999, Beliau terpilih menjadi Presiden.
Masihkah akan menyimpan data kebencian dan dendam di otak kita untuk saling beradu argumen demi mempertahankan ketidakwarasan perpecahan? Atau kita sudahi dengan semangat Izzul Islam, berdamai dengan mengendapkan, membuang egosentrisme, demi tercapainya persatuan umat Islam?
Maka izinkan kami bertanya, ke?mana semangat Izzul Islam anda sebagai umat Islam, apalagi sebagai santri mbah Hasyim? Sungguhpun momentum tidak datang setiap saat, bukan?