Skip to main content

Petikan Pergumulan Hidup

 Oleh Syamsul Maarif

Era 70-80an, Semasa usia SD hingga SLTP, saya tinggal di lingkungan religius, kebetulan desa saya sebagain NU sebagain Muhammadiyah, dan beberapa ada Jamaah juga. Hanya saja benturan zaman itu yang sering terjadi antara NU dan Muhammadiyah saling gasak-gasakan bahkan gesekan.

Usia itu sering berangkat sekolah jalan kaki, kebetulan untuk sampai ke sekolah harus melewati daerah basis. Seringkali untuk menghindari pertemuan dengan anak sana, agar tidak terjadi gasakan, ataupun gesekan. Saya melalui jalan trobosan lewat pematang sawah dan kebun.

Gesekan pun pernah terjadi, usai main bola, terjadi gesekkan, hingga ada korban luka-luka. Rumah warga jadi sasaran timpuk, hingga genteng rumah pada bocor. Sempat cukup menegangkan, warga takut keluar desa, kalau keluar harus mencari jalan mutar menghindar.

Era 90an, Usia SLTA saya tinggal di pesantren, tidak lagi terdengar gasakan antara NU dan Muhammadiyah, akan tetapi yang kami ketahui dan rasakan adanya gasakan antara agama Islam dan Kristen.

Seingat saya waktu itu ada seorang tokoh agama yang mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di daerah tersebut ada seorang dokter yang setiap hari Jumat tidak pernah terlihat di Masjid, pun setiap hari Minggu tidak juga terlihat di rumah.

Suatu hari ada seseorang yang melihat bahwa di hari minggu rupanya si Dokter sedang memasuki Gereja.

Warga yang melihat itu kemudian melaporkan ke Tokoh agama setempat, yang akhirnya si Dokter tersebut di datangi dan dikonfirmasi kebenarannya. Yang akhirnya diketahui bahwa ternyata si Dokter adalah misionaris.

Warga tidak mengusirnya, tapi hanya memberikan warning jangan sampai penduduk kami ada yang terbawa, mengikuti ajaran yang dibawa si Dokter itu.

Sekian bulan kemudian si Dokter sudah tidak terlihat lagi, kabarnya sudah pindah dari daerah tersebut.

Usia kuliah, 1997, saya tinggal di daerah dengan lingkungan pergaulan kampus yang heterogen, dari berbagai suku ada Jawa, Sunda, Batak, Padang, Minang, Madura, Bali, Flores, Lombok, Timor, Dayak, Betawi, dan hampir semua suku yang ada di Indonesia ada. 

1997 awal masuk kampus kami bergabung dan ikut kaderisasi HMI dibawah ketua komisariat Sidra Tahta, diskusi atas berita-berita situasi stabilitas Nasional kami lakukan seminggu sekali. Demonstrasi menurunkan Rezim Status Quo Soeharto, dilakukan berjilid-jilid, dari skala kampus, lokal daerah, hingga ke gedung DPR RI. Walhasil 1998 Presiden lengser.

Pasca lengser rezim Soeharto, buku-buku yang dinilai karya orang-orang kiri yang dulu dilarang seperti karya Pramoedya, Karl Marx, dll bermunculan. Sehingga diskusi/seminar tentang marxisme tumbuh di kampus-kampus bahkan hingga ke kedai kopi. Pergulatan pemikiran menjadi menarik antara idealisme versus matrialisme hingga ke jalan ketiganya Antoni Gidden dan filsafat kontemporernya Brian Fay. Wacana dianalisa dengan berbagai pendekatan, dari pendekatan stilistik, konstruktif, rekonstruktif dan dekonstruktif. Bahkan Tafsir mimpi Sigmund Freud, hingga Gadamerian Hermeneutika menjadi pisau analisa dalam memahami wacana yang pesat bermunculan terbit di media. Tak luput pula merambah pada kajian teologi beragama dalam keberagaman budaya.

Cara berfikir kritis kamipun menyoroti kebijakan kampus yang kami nilai merugikan mahasiswa. Demonstrasi di dalam kampuspun juga terjadi. Kami kritik pimpinan kampus hingga sistem perkuliahan yang semestinya S1 cukup ditempuh 4 tahun kurang, tapi sistem kampus mengharuskan mahasiswa minimal 5 tahun baru bisa lulus kuliah S1.

Saat itu di kampus hanya ada satu organisasi yaitu HMI, karenanya kami bersepakat untuk mendirikan PMII, terpilih ketua sdr. Suyanto. Tidak cukup dua organisasi, kami lanjut mendirikan GMNI, saya terpilih menjadi ketuanya. Sempat saya menolak untuk menjadi ketua GMNI karena saya sedang memimpin Jurnal dan Majalah kampus ekspresi dan Hermeneutics.

Ada yang tidak terlupakan, Kami meliput adegan Teater Gandrik berjudul: Brigader Maling, yang dimainkan oleh Butet dan Djaduk. Liputan itu menjadi masalah karena judul Brigader Maling menjadi headline di majalah ekspresi. Mereka mengira kami menuduh pengelola Kampus adalah barisan maling. Pikirku, kenapa sampai berkesimpulan kesana, toh kami hanya meresume adegan dalam pentas seni teater yang dimainkan Teater Gandrik.

Sebagian temen saya non muslim ada Hindu, Budha, Kristen Katolik dan Protestan. Sebagain lagi Islam dengan corak ada NU, Muhammadiyah, Jamaah, Jaulah, hingga Neo NII. Temen organisasi mahasiswa ada HMI, PMII, GMNI, HTI, dll. Ada juga temen yang Islamnya hanya KTP, pemikirannya lebih cenderung atheis.

Mereka semua berteman dan baik-baik saja, kami akrab saling bantu jika ada yang membutuhkan dibantu, saling support, tidak pernah kami mempermasalahkan keyakinan antara kita. Kami jalani kehidupan bermasyarakat dengan penuh toleransi, saling menghormati satu sama lain.

Suatu ketika pernah terjadi gesekan antar suku, mungkin kita ingat antara Dayak dan Madura, sempat kami ada khawatir, tapi Alhamdulillah, gejolak di daerah mereka tidak dibawa di lingkungan kampus. Mereka antara Dayak dan Madura masih bisa duduk medang dan rokokan bareng di lingkungan kampus.

Suatu hari saya bergaul dengan seorang misionaris, akrab, sama-sama punya hobi membaca karya sastra. Sering kali usai membaca kami membahas isi bacaan di dalamnya. Diskusi kami gayeng, kami sama-sama membedah wacana dengan pisau analisis wacana yang kita pahami saat itu.

Pernah juga saya bergaul dengan teman yang beragama Hindu, tepatnya Hindu Bali. Kami belajar bersama tentang cross culture. Dari pergaulan itu saya tahu bahwa Hindu Bali dengan Hindu di Jawa berbeda. Orang Hindu Bali harus menikah dengan yang se-agama dan se-daerah. Sementara Hindu Jawa boleh menikah bahkan dengan yang berbeda agama yang penting harus ala Hindu.

Era 2000an, Usia pasca kuliah, masa-masa bekerja, saya bergaul dengan bukan hanya orang Indonesia banyak orang asing ada Belanda, Brazil, Spanyol, Amerika, Jepang, Jerman, Colombia, Skotlandia dan Finlandia.

Bergaul dengan mereka semua, lebih mengedepankan akal, rasionalitas, nalar yang jelas punya dasar argumen ketika berkata, pun bertindak. Kami sama-sama saling menghormati apa yang dilakukan, karena prinsipnya semua manusia itu ingin menjadi orang baik dan bahagia.

Suatu hari saya kedatangan tamu ke rumahku, asal Spainyol, tepatnya dari Seville. Tuturnya ke saya bercerita tentang perilaku umumnya anak muda Spanyol sekarang atheis, tidak mau beragama. Pun tidak mau menikah apalagi punya anak. 

Saya ajak jalan ke Kebun, ke gunung, ke waduk, ke pasar, ke warung pinggir jalan, hingga tempat hiburan malam berdangdut Ria sambil ngeteh. Ya kami ajak menikmati suasana alam Indonesia di pagi, siang, sore dan malam hari. 

"Indonesia is the Heaven of the world. I feel so at home here". Katanya.

Hanya ada kejadian yang memalukan, di tempat hiburan malam, handphonenya hilang, kami cari dan tanyakan ke pemilik tempat tersebut tidak juga ditemukan.

Tell me Honestly!

Sifat jujur kami yang dipertanyakan, padahal dari sekian varian karakter manusia yang terpenting adalah Jujur.

Apa yang bisa saya petik dari pergumulan hidup yang pernah saya alami, sungguh pun saya bersyukur pernah mengalami itu semua. Hikmah dan manfaatnya justru sangat dirasa pada cara saya memandang, berfikir, berperilaku, bersikap dan bertindak. Semoga semua itu menjadi bagian yang membentuk saya menuju jalan yang lurus yang diridhoi Allah SWT. 

"Rabbana Atina milladungka rohmah, wahayyi lana min anrina rosada"

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".

Amin Ya Rabbal, Alamin.


Popular posts from this blog

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...