Skip to main content

Antara Retorika Efisiensi dan Realitas Pemborosan

Oleh Syamsul Maarif

Dalam dunia kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi sering kali menjadi senjata utama untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Namun, bagaimana jika komunikasi tersebut berubah menjadi alat manipulasi? Fenomena ini semakin nyata ketika seorang pemimpin belajar dari pembohong publik—mereka yang lihai memainkan kata-kata untuk menutupi realitas yang sebenarnya. Salah satu contoh paling mencolok adalah ketika tindakan nyata yang diambil penuh dengan pemborosan, tetapi yang digaungkan justru narasi tentang "efisiensi."

Retorika yang Menghegemoni

"Efisiensi" adalah kata yang mudah diterima oleh publik. Ia mencerminkan janji akan pengelolaan sumber daya yang bijak, penghematan anggaran, dan kinerja yang optimal. Namun, dalam tangan seorang pemimpin yang terinspirasi oleh pembohong publik, kata ini menjadi alat untuk menciptakan ilusi. Setiap kebijakan, meski boros dan tidak produktif, dibalut dengan narasi efisiensi yang terus-menerus digaungkan. Konferensi pers, pidato, hingga kampanye media sosial digunakan untuk memperkuat citra ini.

Hegemoni kata-kata ini bukan sekadar soal retorika kosong. Ia menembus pikiran masyarakat, menciptakan persepsi bahwa apa yang dilakukan pemimpin tersebut benar-benar demi kebaikan bersama. Padahal, di balik layar, anggaran membengkak untuk proyek-proyek yang tidak relevan, pengadaan barang yang jauh dari kebutuhan prioritas, hingga perjalanan dinas yang lebih bersifat wisata daripada kerja.

Pemborosan yang Tersembunyi

Ironisnya, semakin besar retorika efisiensi dikumandangkan, semakin sulit publik menyadari pemborosan yang terjadi. Misalnya, dalam pembangunan infrastruktur, pemimpin ini mungkin mengklaim bahwa mereka berhasil memangkas biaya proyek. Namun, kenyataannya, kualitas bahan yang digunakan menurun, atau ada mark-up anggaran yang tersembunyi di balik laporan keuangan yang tidak transparan.

Di sektor lain, seperti pendidikan atau kesehatan, kebijakan efisiensi mungkin diterjemahkan menjadi pengurangan anggaran yang justru mengorbankan kualitas layanan. Sekolah kekurangan fasilitas, rumah sakit kekurangan obat, tetapi pemimpin tetap berdiri di podium, berbicara tentang bagaimana mereka telah "mengoptimalkan" pengeluaran.

Dampak Jangka Panjang

Kebohongan yang terus-menerus ini bukan hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga merugikan masa depan masyarakat. Pemborosan sumber daya akan meninggalkan lubang besar dalam anggaran negara atau daerah, yang pada akhirnya harus ditanggung oleh generasi berikutnya. Proyek-proyek yang seharusnya memberikan manfaat jangka panjang malah menjadi monumen ketidakbecusan yang hanya memperkaya segelintir orang.

Lebih jauh lagi, hegemoni kata-kata ini menciptakan budaya baru di birokrasi, di mana kinerja diukur bukan dari hasil nyata, tetapi dari seberapa baik seseorang bisa membungkus kebijakan mereka dengan narasi yang menarik. Ini adalah warisan berbahaya yang akan sulit dihapus, bahkan setelah pemimpin tersebut lengser.

Menangkal Hegemoni dengan Kritis

Dalam menghadapi pemimpin semacam ini, masyarakat harus belajar untuk lebih kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Transparansi anggaran, keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta kebebasan pers menjadi alat utama untuk membongkar kebohongan yang tersembunyi di balik retorika. Hanya dengan membuka mata terhadap kenyataan, publik dapat memutus lingkaran manipulasi ini dan menuntut kepemimpinan yang benar-benar bertanggung jawab.

Kesimpulan

Pemimpin yang belajar dari pembohong publik bukan hanya sekadar individu yang lihai berbicara, tetapi juga simbol dari bagaimana kata-kata bisa menjadi alat dominasi yang kuat. Ketika "efisiensi" menjadi mantra yang menghegemoni, sementara kenyataannya penuh pemborosan, maka masyarakat harus waspada. Karena di balik retorika yang indah, bisa jadi tersembunyi kebijakan yang merugikan banyak orang demi keuntungan segelintir pihak.




Popular posts from this blog

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...