Skip to main content

KONSEP ISLAM AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH:

Landasan Teologis, Metodologis, dan Relevansinya di Indonesia

Abstrak
Artikel ini membahas konsep Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhaj berpikir dan beragama yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, serta tradisi keilmuan ulama klasik. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan historis dan teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Aswaja bukan sekadar aliran teologi, melainkan sistem pemahaman Islam yang mencakup tiga pilar utama: akidah (Asy’ariyah–Maturidiyah), fikih (empat mazhab), dan tasawuf (tasawuf sunni). Dalam konteks Indonesia, Aswaja menjadi fondasi gerakan keagamaan Nahdlatul Ulama dan berperan penting dalam membangun Islam yang moderat, toleran, dan kontekstual.
Kata Kunci: Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Aswaja, Akidah, Fikih, Tasawuf, Moderasi Islam

Pendahuluan

Perkembangan pemikiran Islam pasca wafatnya Rasulullah ï·º melahirkan berbagai aliran teologi dan mazhab fikih. Perbedaan interpretasi terhadap nash dan realitas sosial memunculkan kelompok-kelompok seperti Khawarij, Syiah, dan Mu’tazilah. Dalam dinamika tersebut, Ahlus Sunnah Wal Jamaah hadir sebagai formulasi pemikiran Islam yang menekankan keseimbangan antara teks (naqli) dan rasio (aqli), serta antara dimensi lahiriah dan batiniah agama.
Di Indonesia, Aswaja memiliki posisi sentral dalam tradisi keagamaan mayoritas umat Islam, terutama melalui institusi pendidikan dan organisasi sosial-keagamaan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah konsep Aswaja dari aspek historis, teologis, dan kontekstual.

Metode Penelitian
Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka (library research). Data diperoleh dari karya-karya ulama klasik dan kontemporer yang membahas teologi Asy’ariyah, Maturidiyah, mazhab fikih, serta tasawuf sunni. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis untuk menelusuri perkembangan Aswaja dan pendekatan normatif-teologis untuk menganalisis substansi ajarannya.

Pembahasan

1. Definisi dan Kerangka Konseptual Aswaja
Secara etimologis, Ahlus Sunnah Wal Jamaah terdiri dari tiga kata: ahl (pengikut), sunnah (ajaran Nabi), dan al-jamaah (kelompok mayoritas yang konsisten dalam kebenaran). Secara terminologis, Aswaja merujuk pada golongan umat Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman para sahabat dan mayoritas ulama.
Konsep ini bukan sekadar identitas teologis, melainkan manhaj (metode) dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara komprehensif.

2. Aswaja dalam Bidang Akidah
Dalam bidang teologi, Aswaja direpresentasikan oleh dua madrasah besar:
Abu al-Hasan al-Ash'ari (260–324 H)
Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H)
Keduanya menolak ekstremitas rasionalisme Mu’tazilah dan literalisme tekstual yang kaku. Teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal, serta mengembangkan metode argumentasi rasional untuk membela akidah Islam.
Karakteristik akidah Aswaja antara lain:
Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk (tanzih).
Mengakui peran akal dalam memahami wahyu.
Tidak mudah mengkafirkan sesama Muslim.
Pendekatan ini menunjukkan sifat moderat dan inklusif dalam teologi Islam.

3. Aswaja dalam Bidang Fikih
Dalam aspek hukum Islam, Aswaja mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih:
Imam Abu Hanifah
Imam Malik
Imam al-Shafi'i
Imam Ahmad ibn Hanbal
Keempat mazhab ini memiliki metodologi istinbath hukum yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Perbedaan di antara mazhab dipahami sebagai bentuk kekayaan intelektual (ikhtilaf) yang dibenarkan dalam Islam.
Di Indonesia, mazhab Syafi’i menjadi rujukan mayoritas umat Islam, terutama dalam praktik ibadah dan muamalah.

4. Aswaja dalam Bidang Tasawuf
Dimensi spiritual dalam Aswaja merujuk pada tasawuf sunni sebagaimana diajarkan oleh tokoh-tokoh seperti:
Imam al-Ghazali
Junaid al-Baghdadi
Tasawuf dalam kerangka Aswaja berfungsi untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) dan membentuk akhlak mulia tanpa meninggalkan syariat. Dengan demikian, Islam dipahami secara integral: iman (akidah), Islam (syariah), dan ihsan (tasawuf).

5. Prinsip Moderasi Aswaja dan Relevansinya di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, prinsip-prinsip Aswaja dikembangkan secara institusional oleh Nahdlatul Ulama melalui nilai:
Tawassuth (moderat)
Tawazun (seimbang)
Tasamuh (toleran)
I’tidal (adil)
Prinsip ini menjadikan Aswaja sebagai fondasi Islam yang ramah terhadap budaya lokal dan kompatibel dengan sistem kebangsaan Indonesia. Dalam era kontemporer yang ditandai oleh radikalisme dan polarisasi sosial, Aswaja menawarkan paradigma Islam yang inklusif dan kontekstual.

Kesimpulan
Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupakan manhaj komprehensif dalam memahami Islam yang mencakup tiga pilar utama: akidah Asy’ariyah–Maturidiyah, fikih empat mazhab, dan tasawuf sunni. Secara historis, Aswaja lahir sebagai respons terhadap berbagai ekstremitas teologis dalam sejarah Islam. Secara metodologis, Aswaja menekankan keseimbangan antara wahyu dan akal, antara teks dan konteks, serta antara dimensi lahir dan batin agama.
Dalam konteks Indonesia, Aswaja berperan sebagai fondasi Islam moderat yang menopang harmoni sosial dan keutuhan bangsa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep Aswaja menjadi penting dalam pendidikan tinggi, khususnya pada mata kuliah Ke-NU-an.

Daftar Pustaka
Al-Ash’ari, Abu Hasan. Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah.
Al-Maturidi, Abu Mansur. Kitab al-Tauhid.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulumuddin.
Asy’ari, Hasyim. Risalah Ahlussunnah wal Jamaah.
Siradj, Said Aqil. Ahlussunnah wal Jamaah dalam Perspektif Sejarah.
Bruinessen, Martin van. NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru.

Ditulis untuk materi Pembelajaran Mata Kuliah KeNUan oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd, Dosen KeNUan UNU Purwokerto.

Popular posts from this blog

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...