Skip to main content

Presiden Omom-Omon: Berwajah Ganda


 Di atas panggung, suaranya lantang, penuh semangat. Kata-katanya mengalir seperti puisi yang memukau rakyat. Ia berbicara tentang kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan. Ia berjanji akan membangun negeri, memberantas korupsi, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Setiap kalimatnya disambut tepuk tangan meriah.
Namun, di belakang panggung, segalanya berbeda. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya hanyalah selubung kebohongan. Ia tak lebih dari seorang Presiden Omom-Omon, yang berkata satu hal di depan rakyat, lalu melakukan kebalikannya dalam ruang-ruang gelap kekuasaan.

Di atas panggung, ia berbicara tentang kesejahteraan rakyat, tetapi di belakang layar, ia menandatangani kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ia bersumpah akan memberantas korupsi, namun di ruangan tertutup, ia berbagi keuntungan dengan kroni-kroninya. Ia berteriak tentang demokrasi, tapi diam-diam menekan para pengkritiknya.

Presiden Omom-Omon bukan sekadar pemimpin yang berbohong. Ia adalah murid terbaik dari "The Liar of President in The World", seorang pembohong ulung yang menjadikan dusta sebagai strategi politik. Setiap janji yang ia ucapkan bukanlah komitmen, melainkan alat untuk mempertahankan kekuasaannya.

Rakyat perlahan mulai sadar. Suara yang dulu dielu-elukan kini terdengar hambar. Omom-omon bukan lagi sekadar julukan, melainkan cermin dari pemerintahan yang hanya pandai berbicara, tapi tak mampu menepati janji.

Dan sejarah mencatat, pemimpin seperti ini selalu berakhir sama: ditinggalkan oleh rakyat yang dulu ia tipu.


Popular posts from this blog

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Senyum Karyamin dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Di tengah derasnya arus berita dan pertarungan wacana yang gaduh, cerpen-cerpen Ahmad Tohari terasa seperti bisikan lembut dari tepian kampung. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, tetapi membawa luka yang dalam. Salah satu cerpen yang hingga kini masih bergetar di benak saya adalah Senyum Karyamin. Cerpen ini pertama kali saya baca dalam suasana kuliah. Tapi tokoh Karyamin yang memanggul batu, tersenyum dalam lapar, dan terhuyung di jalan desa, justru menancap sebagai perenungan panjang tentang makna kehidupan. Bukan hanya karena keindahan narasi, tetapi juga karena makna yang terus mengendap dan menggelisahkan. Senyum yang Tidak Sederhana Karyamin adalah lelaki biasa. Ia memanggul batu dari sungai untuk dijual demi menyambung hidup. Badannya lemah, dompetnya kosong, dan hutangnya menumpuk. Namun di wajahnya tersungging senyum. Senyum ini, dalam pembacaan pertama, bisa saja dianggap sebagai simbol keikhlasan—seperti sering kita temukan dalam narasi-narasi spiritual. Namun semakin ser...

Guru di Era Digital dan AI: Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd. "Apakah peran guru akan tergantikan oleh teknologi? Ataukah justru teknologi lah yang menegaskan betapa pentingnya guru?" Pertanyaan itu semakin relevan di tengah derasnya arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan. Jika dulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu, kini murid dapat belajar dari YouTube, mengikuti kursus daring, bahkan mengajukan pertanyaan apa pun kepada mesin pencari atau chatbot berbasis AI. Bagi sebagian orang, kondisi ini memunculkan kegelisahan: apakah profesi guru akan usang? Namun bagi yang lain, inilah momentum untuk mereposisi peran guru agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Guru Tidak Lagi Satu-Satunya Sumber Ilmu Kita harus jujur mengakui: fungsi tradisional guru sebagai “penyampai pengetahuan” sudah bergeser. Murid tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru untuk mendapatkan jawaban. Bahkan, dalam hitungan detik, mesin pencari dapat memberikan ribuan re...