Di atas panggung, suaranya lantang, penuh semangat. Kata-katanya mengalir seperti puisi yang memukau rakyat. Ia berbicara tentang kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan. Ia berjanji akan membangun negeri, memberantas korupsi, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Setiap kalimatnya disambut tepuk tangan meriah.
Namun, di belakang panggung, segalanya berbeda. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya hanyalah selubung kebohongan. Ia tak lebih dari seorang Presiden Omom-Omon, yang berkata satu hal di depan rakyat, lalu melakukan kebalikannya dalam ruang-ruang gelap kekuasaan.
Di atas panggung, ia berbicara tentang kesejahteraan rakyat, tetapi di belakang layar, ia menandatangani kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ia bersumpah akan memberantas korupsi, namun di ruangan tertutup, ia berbagi keuntungan dengan kroni-kroninya. Ia berteriak tentang demokrasi, tapi diam-diam menekan para pengkritiknya.
Presiden Omom-Omon bukan sekadar pemimpin yang berbohong. Ia adalah murid terbaik dari "The Liar of President in The World", seorang pembohong ulung yang menjadikan dusta sebagai strategi politik. Setiap janji yang ia ucapkan bukanlah komitmen, melainkan alat untuk mempertahankan kekuasaannya.
Rakyat perlahan mulai sadar. Suara yang dulu dielu-elukan kini terdengar hambar. Omom-omon bukan lagi sekadar julukan, melainkan cermin dari pemerintahan yang hanya pandai berbicara, tapi tak mampu menepati janji.
Dan sejarah mencatat, pemimpin seperti ini selalu berakhir sama: ditinggalkan oleh rakyat yang dulu ia tipu.