Skip to main content

Presiden Omom-Omon: Berwajah Ganda


 Di atas panggung, suaranya lantang, penuh semangat. Kata-katanya mengalir seperti puisi yang memukau rakyat. Ia berbicara tentang kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan. Ia berjanji akan membangun negeri, memberantas korupsi, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Setiap kalimatnya disambut tepuk tangan meriah.
Namun, di belakang panggung, segalanya berbeda. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya hanyalah selubung kebohongan. Ia tak lebih dari seorang Presiden Omom-Omon, yang berkata satu hal di depan rakyat, lalu melakukan kebalikannya dalam ruang-ruang gelap kekuasaan.

Di atas panggung, ia berbicara tentang kesejahteraan rakyat, tetapi di belakang layar, ia menandatangani kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Ia bersumpah akan memberantas korupsi, namun di ruangan tertutup, ia berbagi keuntungan dengan kroni-kroninya. Ia berteriak tentang demokrasi, tapi diam-diam menekan para pengkritiknya.

Presiden Omom-Omon bukan sekadar pemimpin yang berbohong. Ia adalah murid terbaik dari "The Liar of President in The World", seorang pembohong ulung yang menjadikan dusta sebagai strategi politik. Setiap janji yang ia ucapkan bukanlah komitmen, melainkan alat untuk mempertahankan kekuasaannya.

Rakyat perlahan mulai sadar. Suara yang dulu dielu-elukan kini terdengar hambar. Omom-omon bukan lagi sekadar julukan, melainkan cermin dari pemerintahan yang hanya pandai berbicara, tapi tak mampu menepati janji.

Dan sejarah mencatat, pemimpin seperti ini selalu berakhir sama: ditinggalkan oleh rakyat yang dulu ia tipu.


Popular posts from this blog

Konsep Ahlussunnah Wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama: Prinsip Tawassuth, Tawazun, Tasamuh, dan I’tidal

Oleh Syamsul Maarif, SS., M.Pd Abstrak Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) merupakan paham keagamaan yang menjadi landasan teologis dan metodologis bagi warga Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU, Aswaja tidak hanya dipahami sebagai doktrin teologi, tetapi juga sebagai manhaj al-fikr (metode berpikir) dalam memahami ajaran Islam secara moderat, toleran, dan seimbang. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep Aswaja ala NU beserta prinsip-prinsip utama yang menjadi karakteristiknya, yaitu tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis karya ulama klasik serta pemikiran ulama NU, terutama pemikiran Hasyim Asy'ari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis serta menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat dan harmonis di tengah masyarakat. Kata kunci: Ahlussunnah Wal Jamaah, Nahdlatul Ulama, moderasi Islam, tawassuth Pendahuluan Ahlu...

Para Penjual Penderitaan

Hujan turun berhari-hari. Tanah menjadi jenuh, sungai meluap, rumah-rumah di tepi bantaran roboh seperti gigi rapuh yang tak sempat dirawat. Anak-anak berlari membawa ember, menampung air yang bocor dari atap seng, dan seorang ibu menatap dengan wajah pasrah: bukan pada air, tapi pada nasib yang entah kapan berhenti menetes seperti itu. Di luar sana, suara sirene meraung, dan kamera-kamera mulai berdatangan. Mereka yang dulu jarang lewat gang sempit kini datang dengan rompi dan kamera besar, merekam setiap genangan, setiap tangis, setiap tubuh yang menggigil. Begitulah musim hujan di negeri ini—bukan hanya musim air, tapi juga musim empati yang dijual per kilo. Di antara lumpur dan reruntuhan, berdiri orang-orang yang tahu betul bahwa duka adalah bahan siaran yang laku, bahwa air mata bisa menjadi pembuka berita yang mengundang klik, bahwa bencana adalah musim panen bagi mereka yang hidup dari citra iba. Para penjual penderitaan muncul dari berbagai arah. Ada yang datang dengan kamera,...

Sejarah Berkembangnya Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia

Pendahuluan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merupakan paham keagamaan Islam yang berpegang pada Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas dengan mengikuti manhaj para ulama salaf dan khalaf. Dalam konteks Indonesia, Aswaja berkembang menjadi corak Islam moderat yang menekankan keseimbangan antara akidah, syariat, dan akhlak. Paham ini tidak hanya menjadi ajaran keagamaan, tetapi juga membentuk budaya, pendidikan, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Perjalanan Aswaja di Indonesia berlangsung panjang, mulai dari masa masuknya Islam ke Nusantara, era penjajahan, masa perjuangan kemerdekaan, hingga menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi pada era sekarang. Masuknya Islam dan Awal Berkembangnya Aswaja di Nusantara Islam masuk ke Nusantara diperkirakan sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 melalui jalur perdagangan. Para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat membawa ajaran Islam yang kemudian diterima masyarakat secara damai. Corak Islam yang berkembang saat itu sangat dekat dengan...