Skip to main content

Posts

Tertawa agar Tidak Punah

Sejarah manusia tidak hanya ditulis oleh darah, perintah, dan kemenangan. Ia juga disusun oleh tawa—tawa yang sering lahir di lorong sempit kehidupan, jauh dari mimbar kekuasaan. Humor bukan sekadar selingan; ia adalah cara manusia menyelamatkan akalnya sendiri ketika dunia terlalu absurd untuk dijelaskan dengan logika yang lurus. Pada masa ketika berkata jujur dapat berakhir pada hukuman, kebenaran tidak menghilang. Ia bersembunyi. Ia menyamar sebagai lelucon, berpindah dari mulut ke mulut, berpakaian ringan agar tidak dicurigai. Humor menjadi bahasa rahasia manusia untuk tetap waras di tengah ketidakwarasan yang dilembagakan. Kisah Abu Nawas dan Khalifah Harun ar-Rasyid adalah contoh klasik bagaimana humor bekerja sebagai siasat hidup. Abu Nawas hidup di pusat kekuasaan, tempat satu kata bisa berujung kepala tergelinding. Ia tahu, kejujuran yang telanjang terlalu mahal harganya. Maka ia memilih jalan yang berliku. Ketika diperintahkan memilih hukuman bagi dirinya sendiri, Abu Nawas b...
Recent posts

KUR dan Ilusi Keberpihakan

Kredit Usaha Rakyat, atau KUR, selalu hadir dalam pidato sebagai bukti keberpihakan negara kepada ekonomi bawah. Angkanya besar, grafiknya menanjak, laporan rapi. Setiap tahun pemerintah menyampaikan jutaan pelaku UMKM telah dibantu. Negara merasa sudah bekerja. Statistik tampak meyakinkan. Namun di pasar tradisional, bengkel kecil, atau di kios-kios sederhana, pengalaman hidup yang terdengar justru sunyi. Modal tetap mahal. Kredit tetap sulit diakses. Pertumbuhan tetap terasa jauh. Di sinilah jarak antara janji kebijakan dan realitas ekonomi menganga. KUR dirancang sebagai kredit bersubsidi, dengan bunga yang rendah agar pelaku mikro dan kecil tidak tercekik oleh biaya modal tinggi. Tetapi, dalam praktik di lapangan, banyak pelaku UMKM justru menghadapi hambatan serius ketika ingin mengakses KUR. Ombudsman RI bahkan mencatat banyak pedagang di Pasar Kosambi, Bandung, yang kesulitan mengakses KUR meskipun anggaran telah mencapai triliunan rupiah, karena minimnya informasi dan penolakan...

Mental Jongos

Kita sering bangga menyebut diri merdeka. Tujuh puluh sekian tahun bendera berkibar, lagu kebangsaan dikumandangkan, dan kata “kedaulatan” diulang-ulang dalam pidato. Namun di balik itu, ada sesuatu yang belum sungguh-sungguh lepas: cara berpikir yang gemar merunduk. Inilah yang kerap kita jumpai sebagai mental jongos. Jongos bukan budak yang dirantai. Ia bergerak bebas, berbicara lancar, bahkan mengenakan pakaian rapi. Tapi seluruh geraknya diarahkan oleh satu naluri: menyenangkan tuan. Ia patuh bukan karena benar, melainkan karena takut kehilangan tempat. Ia diam bukan karena setuju, melainkan karena terbiasa mengalah. Mental jongos tumbuh subur dalam relasi kuasa yang timpang. Ia tidak lahir dari kebodohan, melainkan dari latihan panjang: melihat yang berkuasa selalu benar, dan yang lemah selalu salah. Dari sana muncul keyakinan sunyi bahwa keadilan adalah kemewahan, bukan hak. Maka ketika diperlakukan tidak adil, reaksi yang muncul bukan perlawanan, melainkan pembenaran: “Beginilah...

WERENG COKLAT

Kabut pagi turun pelan-pelan seperti doa yang belum selesai dilafalkan. Dari kejauhan, Desa Kalikedung tampak seperti sekeping dunia yang belum tersentuh hiruk-pikuk kota. Sawah-sawah membentang sejauh mata memandang, dihiasi kilau embun yang tersisa dari semalam. Di batas pematang, Pak Sastra berdiri dalam diam, seolah mematung bersama rumpun padi yang bergoyang ringan ditiup angin. Aku menghampirinya dengan langkah hati-hati agar tidak membuat tanah pematang runtuh. Dari belakang, tubuhnya tampak kokoh tetapi bergetar halus, seperti ada beban yang ia pikul tanpa bisa dibagi dengan siapa pun. “Pagi, Pak,” kataku pelan. Ia menoleh. Wajahnya yang biasanya cerah tampak keruh, penuh garis-garis yang kutahu bukan hanya sebab umur. “Pagi, Nang. Kau lihat ini…” Ia menunjuk ke hamparan padi yang menguning sebelum waktunya. “Warnanya pucat. Menguning tapi tak bahagia.” Aku mengamati lebih dekat. Daun-daunnya menggulung, beberapa batangnya merunduk seperti orang tua yang terlalu cepat kehilanga...

Riuh di Belakang Punggung

Di ujung Desa Wanasri, tepat di tepi pematang sawah yang membelah kampung, tinggallah seorang lelaki sederhana bernama Sukarman. Ia bukan tokoh penting desa; bukan ketua RT, bukan perangkat desa, bahkan bukan pemilik sawah luas. Ia hanyalah lelaki yang hidup dari bekerja serabutan—kadang menjadi tukang membetulkan pintu rumah warga, kadang membantu menimba air di mushola. Yang ia punya hanya senyum yang tak pernah ditarik dari bibirnya, dan cara bicara yang selalu pelan, seolah takut melukai angin. Namun entah dari mana asalnya, nama Sukarman kerap jadi buah bibir. Bukan dalam bentuk pujian, melainkan dalam bentuk cerita-cerita liar yang beredar persis seperti asap dapur yang beterbangan tanpa arah. Orang bilang ia licik. Ada pula yang bilang ia mau cari muka pada perangkat desa. Yang lebih kejam, ada yang menuduh ia menilep beras bantuan meski ia bahkan tak memiliki akses ke gudang penyimpanan. Padahal, bagi Sukarman sendiri, kehidupan berjalan terlalu sunyi untuk mengurusi hal-hal se...

NGLUNGSUMI

Di kampung-kampung Jawa, orang sering memakai kata “nglungsumi” untuk menggambarkan ular yang sedang berganti kulit. Lapisan lama terkelupas, jatuh di semak, sementara sang ular melenggang dengan kulit baru yang lebih mengilap. Alam memaknai ini sebagai siklus hidup: bertumbuh, memperbarui diri, menyesuaikan dengan perubahan. Namun dalam kehidupan manusia, kata itu tak selalu bermakna demikian indah. Di warung-warung pagi, di teras masjid selepas magrib, atau di bawah pohon sawo tempat orang menunggu angkot, “nglungsumi” menjadi sindiran halus untuk menggambarkan perubahan perilaku seseorang setelah menerima amanah, jabatan, atau kuasa. Sebuah perubahan yang bukan tumbuh ke dalam, melainkan menebalkan kulit luarnya saja. Di banyak desa Jawa, kita mengenal orang yang dulu biasa saja: nongkrong di pos ronda, ikut kerja bakti tanpa perlu undangan, menaruh wajah teduh saat berbicara pada tetangga. Tetapi ketika kekuasaan menempel di badannya—entah sebagai ketua RT, anggota panitia, staf ke...

NGGRAGAS

Ada satu kata Jawa yang sederhana namun penuh tenaga: nggragas. Dalam mulut orang Jawa, kata ini sering diucapkan dengan sedikit getar nada jijik. Nggragas bukan sekadar rakus—ia lebih dalam, lebih licik, lebih membahayakan. Ia bukan hanya soal perut yang tak tahu kenyang, tapi juga tentang hati yang menolak puas, tentang nafsu yang menelan akal sehat. Dalam dunia yang serba dibungkus kepalsuan hari ini, nggragas menjelma menjadi wajah keseharian bangsa. Aku lahir dan besar di kampung. Di sana, rakus terlihat sederhana: orang yang makan paling banyak di kenduri, atau anak kecil yang menimbun jajanan tanpa mau berbagi. Tapi di kota—ah, di kota, nggragas menjelma dalam bentuk yang lebih halus dan berbahaya. Ia duduk di kursi empuk kantor pemerintah, berdasi, berbicara tentang moral dan nasionalisme, sambil menandatangani surat proyek dengan angka-angka yang melebihi imajinasi rakyat kecil. Nggragas adalah penyakit lama. Ia sudah ada sejak zaman raja-raja, sejak manusia pertama kali menge...

Pahlawanmu, Bukan Pahlawan Mereka?

Pada 10 November 2025, tepat di Hari Pahlawan, Presiden Prabowo Subianto menandatangani keputusan yang menetapkan Soeharto, Presiden ke-2 Republik Indonesia, sebagai Pahlawan Nasional. Berita itu mengguncang ruang publik, memunculkan tepuk tangan dan seruan keberatan dalam napas yang sama. Sebagian masyarakat menganggap keputusan itu sudah lama pantas. Bagi mereka, Soeharto adalah arsitek pembangunan, pemimpin yang mengangkat bangsa dari krisis dan membawa Indonesia menuju kestabilan. Namun bagi sebagian lain, keputusan itu terasa seperti membuka kembali luka lama — luka tentang kekerasan, pembungkaman, dan ketidakadilan yang belum pernah benar-benar disembuhkan. Kini, perdebatan tentang “apakah Soeharto layak menjadi pahlawan” tak lagi relevan. Ia sudah resmi menjadi pahlawan nasional. Pertanyaannya bergeser: apa arti kata “pahlawan” setelah keputusan ini diambil? -- Tak ada yang bisa menampik bahwa Soeharto memiliki jasa besar bagi negeri ini. Ia menata ekonomi pasca-1965 yang kacau,...