Oleh Syamsul Maarif Era 70-80an, Semasa usia SD hingga SLTP, saya tinggal di lingkungan religius, kebetulan desa saya sebagain NU sebagain Muhammadiyah, dan beberapa ada Jamaah juga. Hanya saja benturan zaman itu yang sering terjadi antara NU dan Muhammadiyah saling gasak-gasakan bahkan gesekan. Usia itu sering berangkat sekolah jalan kaki, kebetulan untuk sampai ke sekolah harus melewati daerah basis. Seringkali untuk menghindari pertemuan dengan anak sana, agar tidak terjadi gasakan, ataupun gesekan. Saya melalui jalan trobosan lewat pematang sawah dan kebun. Gesekan pun pernah terjadi, usai main bola, terjadi gesekkan, hingga ada korban luka-luka. Rumah warga jadi sasaran timpuk, hingga genteng rumah pada bocor. Sempat cukup menegangkan, warga takut keluar desa, kalau keluar harus mencari jalan mutar menghindar. Era 90an, Usia SLTA saya tinggal di pesantren, tidak lagi terdengar gasakan antara NU dan Muhammadiyah, akan tetapi yang kami ketahui dan rasakan adanya gasakan antara ...
"Anthology of Syams' Works" bring together essays, short stories, opinion pieces, and articles that reflect critical engagement with social, cultural, and human realities. Through a calm yet incisive voice, these works explore meaning beyond facts, inviting readers into a space of reflection, empathy, and interpretation rather than definitive answers.